Rabu, April 02, 2014

Kamu

Empat belas tiga puluh


Jam tangan digital saya berhenti di angka tersebut. Masih sekian jam lagi sebelum pulang. Saya tidak mampu menghitung berapa jam lagi sampai dengan jam tujuh belas. Otak saya buntu. Hitung-hitungan matematika mudah pun saya tidak mampu menjawabnya. 

Ini semua gara-gara "asmara". 

Asmara membajak semua sistem di otak saya. Makan tak teratur, tidur tidak nyenyak, mandi tidak bersih (ah, ini semua gara-gara sabun yang sudah empat hari habis). 

Pikiran saya dipaksa fokus pada empat kata. K-A-M-U. 


gambar diambil dari sini


Tunggu! Itu empat huruf. 

Ah! Lagi-lagi otak saya kacau.

Kamu. Saya bahkan tidak tahu siapa nama kamu. Saya akan panggil kamu dengan sebutan 'Kamu' saja. Saya tidak bisa berpikir sebutan apa yang lebih indah dari itu. Sudah saya bilang kan, otak saya buntu. 
gambar diambil dari sini

Seandainya dua hari kemarin Kamu tidak datang kepada saya dengan senyuman manis itu, mungkin hari ini saya masih baik-baik saja. Kamu mungkin lebih tinggi limabelas centimeter dari saya, rambut Kamu lurus sebahu, baju motif geometris dan tas jinjing Zara warna coklat. Kamu menanyakan kepada saya dimana letak jalan manggar dua nomor empat puluh sembilan itu. Saya jawab itu tiga belas kilometer dari sini. Naik angkot nomor tiga bayar saja tiga ribu kata saya. Kamu tersenyum lagi, kali ini gingsul di gigi taring itu membuat saya hampir pingsan saking manisnya wajah Kamu. Tapi saya tidak pingsan, rugi tidak memandangi wajah Kamu lama-lama. Saya jatuh asmara, sepertinya. Jatuh cinta sudah biasa, jatuh asmara mungkin terdengar luar biasa bagi saya. 

Kamu jawab mau berjalan kaki saja, mumpung cuaca sedang baik.

Cuaca memang sedang baik. Kemarau bulan ketiga. Hujan baru turun tiga bulan lagi jika penjelasan guru geografi saya benar. Angin muson timur masih bertiup. Tapi kata ahli, global warming mengubah kebiasaan cuaca.

Lalu saya berdoa dalam hati, meminta hujan turun. Sederas-derasnya.

Tuhan sayang sama saya.

Tiga setengah langkah Kamu berjalan, hujan benar-benar datang. Sederas-derasnya. Angin sekencang-kencangnya. Rok kamu tersibak. Hati saya berdetak kencang. Sial kata saya, Kamu ternyata pakai hot pants. 

Kamu berlari kembali ke arah saya, bukan, ke warung dibelakang saya. Saya tahu Kamu pasti berteduh. Saya juga, Saya mau berteduh dekat Kamu. Maka, saya berlari kecil menuju ke warung itu, tepat pada saat petir menyambar kencang pohon disamping saya. Saya hanya melihat kilatan, kemudian semua menjadi hitam.

Yang saya ingat, kepala saya nyeri. Saya membuka mata perlahan sambil meringis. Saya tidak tahu pasti dimana saya, tapi saya yakin saya berada di empuknya sebuah kasur. Baju dan celana saya basah, sepatu saya entah kemana. Saya dikelilingi oleh wajah-wajah asing. Kerumunan wajah-wajah asing itu mengitari saya sambil berkata banyak hal. Saya tidak mampu mendengar dengan baik. Rasa nyeri di kepala saya masih belum mereda. Semakin riuh kegaduhan kerumunan di sekeliling saya, semakin nyeri kepala ini.

Lalu tiba-tiba wajah Kamu muncul dari kerumunan. Kamu berkata, anehnya saya mendengar sangat jelas. Saya berlari saat petir menyambar pohon disamping saya. Pohon itu tumbang, rantingnya berjatuhan. Salah satu ranting berdiameter seperti galon Aqua menjatuhi saya. Saya pingsan dan kemudian dibawa orang-orang ke sebuah rumah didekat sini. Begitu katamu.

Saya tak percaya ada ranting sebesar galon Aqua, bahkan jika memang ada, saya heran jika memang ranting sebesar galon Aqua menjatuhi saya seharusnya saya sudah koma atau mati. Begitu kata saya. Kamu tertawa, lalu  meminta maaf, seharusnya ranting sebesar botol Aqua, jelas Kamu. Saya bertanya botol Aqua berapa liter. Kamu jawab botol Aqua tigaratus mililiter. Sial, kecil sekali, kata saya. 

Kamu bilang, saya seharusnya segera ke rumah sakit. Kepala saya bocor harus dijahit. Saya tidak percaya ranting sebesar botol Aqua tigaratus mililiter bisa membuat kepala saya bocor. Saya bangkit dari tempat tidur dan seketika itu pula, darah mengucur deras dari kepala saya. Saya pusing kemudian pingsan lagi. Saya masih bisa mendengar teriakan kekhawatiran dari Kamu tepat sebelum saya benar-benar tidak sadar lagi. Saya bahagia sebelum benar-benar pingsan.

pengennya gini, tapi ga kesampean
gambar diambil dari sini

-------------------------------------------


Kata suster, saya pingsan dua jam. Kepala saya mendapat empat belas jahitan. Suster bilang, saya kejatuhan pipa besi dengan diameter seukuran bola tenis, bukan kayu. Saya bertanya kenapa ada orang menaruh pipa besi di atas pohon. Suster bilang tidak tahu, yang jelas bukan dia katanya. Saya bertanya lagi siapa yang mengantar saya ke rumah sakit. Suster menjawab ada seorang wanita yang mungkin lebih tinggi limabelas centimeter dari saya, rambut  lurus sebahu, baju motif geometris dan tas jinjing Zara warna coklat yang mengantar saya dengan mencarter angkot nomor tiga. Ah, pasti Kamu !

Suster bilang, saya boleh pulang hari itu juga setelah menyelesaikan administrasi. Rupanya Kamu tidak sekalian membayar biaya pengobatan saya, bahkan meninggalkan nama pun tidak. Dan saya baru tahu, Kamu membawa saya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Jika diingat-ingat, memang rumah sakit ini yang paling dekat dengan lokasi saya pingsan.

Lalu disinilah saya dua hari kemudian.  Luka di kepala saya masih berdenyut-denyut nyeri. Suster bilang jahitannya tidak usah dicopot, nanti akan menyatu dengan daging. Sama seperti Kamu, menyatu dengan alam bawah sadar saya, meski saya tidak tahu nama Kamu. satu petunjuk pun saya tidak tahu.

Kamu benar-benar menguras habis otak saya. Hari ini saya ditegur lima kali oleh Kepala Seksi Hukum saya karena lima kali saya salah mengira ruangan dia sebagai toilet. Memang bersebelahan, tapi memang kelewatan jika kubikel dengan kaca tembus pandang punya dia saya samakan dengan toilet. Saya bahkan lupa jika hari ini adalah deadline tugas dari Pak Direktur saya. Siang tadi saya disemprot tiga jam oleh Pak Direktur, dan untungnya karena memikiran Kamu, saya lupa apa saja yang sudah tersemprot dari mulut Pak Direktur kepada saya.

Dipikiran saya, seperti ada kata-kata dari Kamu bicara pada saya "Aku halal untukmu...". Meski saya tahu itu halusinasi, saya menganggapnya itu benar-benar nyata. Saya ngarep...


Tidak terasa membayangkan kembali cerita tadi membuat waktu berjalan sangat cepat. Jam tujuhbelas tepat. Saya harus segera pulang. 

Ah!

Saya baru ingat, ada satu hal yang saya ingat tentang Kamu. 

Alamat yang Kamu tanyakan, jalan manggar dua nomor empat puluh sembilan itu. 

Mungkin jika saya bertanya kesana, saya akan mendapat sedikit petunjuk tentang Kamu.

Semoga...

------------------------------------------


ditulis ketika sedang flu. empat kali bersin, dua kali ke toilet, dan tak terhitung berapa kali mencabut bulu hidung selama mengetik

2 komentar:

ratu untung mengatakan...

I Ratu Untung, di sini untuk mengemis dan warga saran dari Indonesia dan lain-lain, untuk berhati-hati dengan orang-orang yang menyebut diri pemberi pinjaman mereka. Karena kemiskinan dan kesulitan, saya scammed dua kali oleh beberapa disebut pinjaman pemberi pinjaman, tidak sampai saya datang di kredit clara, yang mengubah hidup saya untuk lebih baik. Sekarang saya bisa makan dengan baik dan anak-anak saya bisa berhenti menangis untuk makanan dan sekarang dapat pergi ke sekolah.
Jika Anda tertarik untuk mendapatkan pinjaman cepat tanpa colletaral, saya menyarankan Anda menghubungi Ibu Clara on: Claraloans@financier.com atau Claraaldermanloans@gmail.com untuk lebih saran dan direktif Anda juga dapat menghubungi saya melalui: Ratuuntung2@gmail.com dan aku akan berada di sini untuk membantu Anda mendapatkan pinjaman Anda yang Anda inginkan.

Solusi cepat kaya mengatakan...

,,.,KISAH NYATA ,,,,,,,
Aslamu alaikum wr wb..Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Bismillahirrahamaninrahim,,senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman2 melalui room ini, sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki, namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang, hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yng saya punya, akhirnya saya menaggung utang ke pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 800 juta , saya stress dan hamper bunuh diri anak saya 2 orng masih sekolah di smp dan sma, istri saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anakanaknya ditengah tagihan utang yg menumpuk, demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue, ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman dan bercerita kepadanya, Alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya, dulu katanya dia juga seperti saya stelah bergabung dengan KI JAMBRONG hidupnya kembali sukses, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir dan melihat langsung hasilnya, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KI JAMBRONG di No 0853-1712-1219. Semua petunjuk AKI saya ikuti dan hanya 3 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah Demi AllAH dan anak saya, akhirnya 5M yang saya minta benar benar ada di tangan saya, semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha, kini saya kembali sukses terimaksih KI JAMBRONG saya tidak akan melupakan jasa AKI. JIKA TEMAN TEMAN BERMINAT, YAKIN DAN PERCAYA INSYA ALLAH, SAYA SUDAH BUKTIKAN DEMI ALLAH SILAHKAN HUB KI JAMBRONG DI 0853-1712-1219. (TANPA TUMBAL/AMAN).