Senin, November 28, 2016

Selasa, November 15, 2016

Ketika Gayung Mandi Berasa Barbel 10 Kilo


Sejak dulu, saya memang tidak berbakat di bidang olahraga. 

Sepakbola, misalnya, yang kata orang bilang permainan paling populer sejagad. Jaman kecil dulu, penentuan tim dilakukan berdasarkan suit antara dua anak paling jago. Pemenangnya punya hak privilege menentukan anggota tim pertamanya, baru selanjutnya pihak yang kalah. Dengan sistem pemilihan seperti ini, bisa dipastikan saya adalah anggota tim yang dipilih di urutan terakhir. Ya, kalo tidak terakhir, maksimal satu sebelum terakhir lah. Nah, orang-orang pilihan terakhir ini biasanya ditempatkan di posisi bek. Entah kenapa, anak yang bakat main bolanya setipis ikan asin, yang nendang bola kedepan tapi endingnya selalu naik ke awan (kadang malah ikut bumi berotasi 2 kali dulu, baru balik ke lapangan), selalu ditempatkan sebagai bek. Posisi bek sebenarnya lebih mirip seperti penjaga sandal (yang biasa dipakai sebagai tiang gawang). Mau gimana lagi, kenal formasi pun tidak, setiap kali perebutan bola, hampir semua anak pasti ikut berebut. Bola entah dimana, yang penting kaki diayun. Kaki memar sudah biasa, kuku jempol patah sudah biasa, berantem sambil bawa-bawa "Nanti, aku bilangin Bapakku lho..." juga hal yang biasa.

Meskipun sebenarnya, posisi bek ini lebih beradab ketimbang posisi kiper. Karena dulu, yang jadi kiper pasti dipilih anak yang gendut. Meskipun gendutnya cuma dikit, tapi kalau lebih gendut dari yang lain, pokoknya kiper. Beruntungnya, meskipun saya waktu itu tergolong "gendut", tapi ada yang lebih gendut dari saya. Herannya, si kiper ini meskipun dia jarang banget lari-lari rebutan bola, dia selalu yang pertama minta ganti. Alesannya "Emak gue nyariin nih...".
Dan setelah itu, posisi saya turun pangkat menjadi kiper.....

----------------------------------

Selepas kuliah, olahraga bisa dibilang sangat jarang saya lakukan. Mentok juga futsal, dengan jadwal seminggu sekali, itu saja belum tentu bisa datang. Belum lagi, waktu itu saya perokok (ya, waktu itu, sekarang sudah tidak lagi). Sehari satu bungkus. Plus kopi, teh manis, cemilan tiada henti, dan  makan padang pasti nambah nasi (siapa bisa menolak kelezatan bumbu rendang?). Alhasil, awal tahun 2015 kemarin, berat badan saya menyentuh angka 82. Ini kira-kira seukuran penguin kebanyakan martabak manis.

Dengan berat badan segitu gedenya, buat duduk pun rasanya 'ngap'. Rumah makan dengan tipe lesehan, hampir pasti dicoret dari pilihan. Ya mau gimana, duduk bersila aja susah. Ukuran celana nembus angka 35. Peningkatan drastis dari waktu pertama kerja yang cuma 31. Pakai baju slim fit serba salah. Pinggang tumpah-tumpah, kancing berontak karena tidak mampu menahan tonjolan perut, lengan meronta-ronta karena sempitnya ruang gerak. Akhirnya baju slim fit hanya jadi pajangan. 
Istri saya secara kejam pernah bilang "Itu perut sampai bisa jadi sandaran tangan..."
Hati saya terpukul, saya kecewa. Hari itu saya cuma makan empat centong nasi....
Ibu, aku hamil....

Dalam kebingungan dan kegundahan tiada tara, saya mencoba bertanya kepada Google, bagaimana cara menurunkan berat badan. Pada saat itu OCD sedang hangat-hangatnya. OCD dari Oom Dedy Corbuzier yang katanya diet dan olahraga intensitas tinggi yang katanya bisa mengurangi berat badan secara optimal. Belum juga mencoba, istri saya malah melarang saya melakukan diet ala OCD. Ya, berhubung istri saya sarjana gizi, dia mungkin lebih tau risiko melalukan diet OCD ini.

Sampai akhirnya, ketika iseng klik-klik Youtube, sama menemukan video Levent Oz. Levent Oz ini ternyata juga punya masalah yang sama dengan apa yang saya hadapi. Dari kecil jarang berolahraga dan punya masalah dengan tumpukan lemak. Kemudian, dia mencoba melakukan Freeletics selama 15 minggu. 
Dan berakhir dengan................sixpack!! 
Sinting!

Apa itu Freeletics?
Freeletics adalah olahraga yang berasal dari Munchen dan didirikan oleh Andrej Matijczak, Joshua Cornelius dan Mehmet Yilmaz pada tahun 2013. Freeletics bisa dibilang merupakan salah satu jenis latihan HIIT (High Intensity Interval Training). Latihan ini hanya memanfaatkan berat badan sendiri dan dilakukan secepat mungkin. Latihannya pun hampir tidak perlu menggunakan alat yang mahal. Perkembangan terbaru, Freeletics saat ini memiliki latihan berupa Bodyweight (memanfaatkan berat badan) dan Running. Kalian bisa cari aplikasinya di App Store.

Karena merupakan latihan dengan tipe HIIT, Freeletics menuntut kita melakukan rangkaian gerakan diulang 3-5 set dan dilakukan secepat-cepatnya. Tantangan dari Freeletics memang mencatat waktu terbaik setiap latihan.

Mengutip dari situsnya, Freeletics Bodyweight terdiri dari 3 tipe latihan:
  1. The Cardio-focus mainly features workouts and runs that improve your cardiovascular endurance. That doesn’t mean that strength exercises are completely excluded – a short, occasional session can make a big difference to your overall conditioning. This focus is based on the fitness test and progressing through the workouts and will give you all you need to increase your body definition.
  2. Cardio & Strength offers a varied mix of strength and endurance components, in order to unleash several athletic abilities at once. This coaching focus can contain literally anything from runs to highly complex sets – but whatever happens, it will always be based on your own abilities!  Whether you want to break down fat, build muscle or improve your performance – with the Cardio & Strength stream, anything is possible! 
  3. The Strength stream concentrates on workouts and exercises that are tightly focused on building strength. Short runs and sprints are incorporated in the routines as an additional means to encourage your progress.


Saya sendiri memilih melakukan latihan Cardio & Strenght. 

Sebenarnya aplikasi Freeletics ini gratis, namun untuk menu latihan yang terprogram (kalau istilah Freeletics, pakai Coach) diharuskan membayar dengan jumlah tertentu. Ya, berhubung saya menganut prinsip ekonomis, saya coba googling menu 15 minggu, dan, ternyata ada. Tapi, menu 15 minggu tersebut bisa dibilang menu lama, tidak up to date. Jika kalian mau menu latihan yang lebih terprogram, lebih baik pakai menu Coach. 

Selama 15 minggu, saya diharuskan melakukan beberapa menu latihan. Setiap minggu kira-kira ada 4-5 menu latihan yang harus kita lakukan. Menu latihan tiap minggu berbeda-beda. Selain itu, pada minggu-minggu tertentu ada tantangan Hell Week. Hell Week menuntut kita menyelesaikan 3 menu latihan dalam satu hari. Yap, 3 menu latihan dalam satu hari.

Sebagai gambaran, beberapa menu latihan freeletics sebagai berikut:


Pertama kali saya melihat menu latihan ini, saya sempat keder juga. Dengan latihan sebanyak itu, mau berapa jam selesainya? Di panduan Freeletics ada latihan Pre Program selama lima minggu untuk membiasakan diri dengan gerakan Freeletics. Karena sudah punya bekal jogging tiap pagi dua bulan terakhir antara 3-5 kilo, saya cukup pede melewati Pre Program dan langsung menuju menu latihan pertama : Venus.

Venus, seperti gambar diatas, terdiri dari 4 ronde, masing-masing 50 push up, 20 sit up dan 50 squat. Berarti secara total, dalam satu menu latihan, saya harus melakukan 200 push up (!!), 80 sit up, dan 200 squat. Bisa?   

Aplikasi Freeletics, akun instagram dan facebooknya selalu bikin saya 'panas' dengan quote motivasinya. Jargon Freeletics paling 'nyodok' di hati adalah "quit is not an option" dan satu jargon lagi yang bikin kipas-kipas :

'Don't stop when you're tired. Stop when you're done' 

Hari itu, di sesi latihan Freeletics pertama, saya menyelesaikan menu Venus dalam waktu 1 jam 10 menit! Keringat seperti tidak mau berhenti. Saya lupa berapa gelas air yang saya minum. Pokoknya capek. Saya meyesal kamar mandi rumah tidak dilengkapi dengan shower. Ngangkat gayung serasa barbel 10 kilo. Pegal luar biasa. Bangun pagi pun, rasanya seperti digebukin sapi bolak-balik.
Entah kenapa, meskipun pegal, rasanya kok semakin hari semakin nagih. Semakin ingin mengejar waktu yang lebih cepat (kalau istilah di Freeletics namanya PB-Personal Best). Meskipun siksaan menu latihannya itu luar biasa. Tapi, pegel-pegelnya cuma kerasa seminggu pertama. Minggu kedua dan seterusnya, pegal-pegal tidak terasa lagi. Semakin lama latihan, catatan waktu juga semakin membaik. 

Berkat Freeletics, berat badan saya yang awalnya sempat tembus angka 82, akhirnya (waktu itu) bisa turun ke angka 69. Turun 13 kilo! Kenapa saya bilang waktu itu, karena itu 4 bulan setelah Freeletics (sekitar bulan Juni-Juli 2015). Setelah turun ke 69, saya sempat "murtad" dari Freeletics dan lebih sering lari, lari dan lari. Sekarang sih, berat badan stabil di 72-73. Berkat Freeletics juga, saya 'terpaksa' berhenti merokok. Soalnya, Freeletics membutuhkan stamina prima. Merokok cuma membuat paru-paru jebol. Mungkin saya bisa koma kalau masih merokok ketika menjalan program Freeletics.

senangnya, bintang laut tidak lagi menganggapku sebagai bangkai paus bongkok
Berhubung, kemarin lihat-lihat foto lama, saya jadi kangen sama Freeletics. Saya kembali menekuni Freeltics lagi. Masih dengan menu latihan yang sama Cardio & Strenght, dan masih dengan jadwal jadul (masih belum berniat pakai Coach, soalnya mahal. Mahahaha). Ketika tulisan ini dibuat, saya sudah memasuki Woche 4 (istilah Freeletics, artinya Minggu keempat dari 15 minggu). 

Sensasi latihan pertama setelah sekian lama tetap bikin terkejut-kejut. Venus, saya melahapnya dalam waktu 23 menit 39 detik. Lumayan lah. Meskipun ngos-ngosan. Melihat catatan waktunya jika dibandingkan ketika pertama kali sekali memulainya memang cukup baik. Tapi jika dibandingkan terakhir kali saya melakukannya ya melorot banget. Tapi paling tidak, berkat rutin lari, stamina saya ga jebol-jebol amat lah.

Kalau dipikir-pikir, dengan latihan yang begitu berat, badan pegal-pegal, kenapa saya masih betah menjalani sampai akhir? Sejujurnya, saya cuma punya niatan pengen kurusan dikit. Ya, cuma niatan itu yang jadi motivasi saya. Tiap minggu saya nimbang pakai timbangan di klinik kantor. Begitu jarum timbangan mulai berkurang, rasanya senang sekali. Itu jadi motivasi saya untuk terus latihan di minggu-minggu berikutnya. Apalagi, kalau lihat foto jaman gendut dulu, rasanya kok malu. Masa pengen gendut lagi sih. Sekali-kali, sehat dikit lah.

Saya sempat ditawari oleh beberapa teman yang kebetulan ikut MLM yang menawarkan produk-produk pelangsing. Saya sempat tegiur. Enak banget kayaknya, cuma minum teh, tau2 kurusan 4 kilo. Lah, saya untuk turun 4 kilo aja mungkin butuh latihan 4-6 minggu Freeletics. Sampai kemudian, secara tidak sengaja saya membaca blog seorang yang sedang menjalan program Freeletics disini, judulnya Instan itu Buat Para Pemalas.

Jeger!

Asem! Nohok banget. 

Saya harus akui, tulisan-tulisan dari https://rizaalmanfaluthi.com ini jadi salah satu motivasi tambahan saya menyelesaikan Freeletics.

Menutup tulisan ini, saya sarankan kepada yang ingin memulai Freeletics : mulai sekarang, karena nanti bisa berati 'tidak akan pernah'.






 



Share:

Senin, April 07, 2014

Insert Investigatif : Superhero!!

Oke, mungkin ini terdengar sangat tidak masuk akal. Tapi percayalah, saya benar-benar melakukan hal yang mungkin hanya Louis Lane saja yang pernah. Ya, mewawancarai superhero! Jika memang kalian sungguh-sungguh tidak percaya, maka jangan teruskan membaca artikel ini. Jika kalian percaya, anda hebat! 

Sebagai intermezzo, saya akan berbagi sebuah informasi. Sembilan hari yang lalu, tiga superhero datang ke Indonesia. Ketiganya punya nama besar di dunia, tentu saja di Indonesia pun juga. Siapa yang tidak kenal mereka. Saya akan mulai wawancara dengan satu-satunya superhero wanita yang ada diantara kami. Storm! Saya melakukan wawancara dengan bahasa inggris, untuk kepentingan kalian saya sudah mengalih bahasakan ke bahasa Indonesia.


dapet foto candid. dia ga sadar ada kamera di belakang. hehehe

Saya     : Halo Mbak Storm! Senang berjumpa dengan anda? Apa kabar?
Storm   : Halo, kabar saya baik.
Saya     : Sebelum saya mulai wawancara dengan pertanyaan serius, ada satu pertanyaan yang cukup menganggu saya selama ini. Mbak Storm bergabung dengan X-Men. Men itu kan laki-laki. Kenapa Mbak bisa masuk ya?
Storm   : Saya dulunya laki-laki.
Saya     : ANJRIT! Eh, maaf Mbak, eh Mas. OKE! Mbak aja ya!Suatu kehormatan Mbak Storm bisa datang ke Indonesia. Apa yang Mbak lakukan  disini?
Storm   : Saya disini untuk melancarkan acara kampanye beberapa partai. 
Saya     : Oh, Mbak mendukung partai tertentu?
Storm   : Saya tidak bilang mendukung, saya bilang saya hanya melancarkan
Saya     : Konkritnya seperti apa, Mbak?
Storm   : Begini, mudahnya adalah saya berusaha supaya acara kampanye tidak terganggu oleh hujan deras dan angin kencang. Masyarakat Indonesia mungkin mengenal kegiatan yang saya lakukan ini dengan sebutan pawang hujan  
Saya     : Ooooh! Pawang Hujan. Uhmmm, yah....menarik. Sesuai kemampuan unik Mbak ya? 
Storm   : Betul. Saya bisa memanipulasi cuaca. Tapi khusus di Indonesia, saya masih membutuhkan beberapa tambahan, misalnya : dua telur ayam kampung, ketan putih yang dibungkus daun pisang, tiga rokok kretek, dan kopi hitam pahit satu cangkir.
Saya     : Wow, Mbak makan itu semua? 
Storm   : Bukan, itu untuk sajen.
Saya     : SAJEN!? Buat apa Mbak butuh sajen? Bukankah Mbak mampu untuk mengubah cuaca?
Storm   : Ya, sebenarnya kalau anda lihat behind the scene film X-Men, saya selalu sedia  sajen tiap kali adegan memanipulasi cuaca. Kalau pengen panas, sajennya seperti tadi. Kalau pengen petir, telur ayam kapungnya diganti telur bebek. Kalau salju, ketannya digati ketupat. Kalau pengen ada kabut, kopi hitamnya diganti Fanta. Dan, kalau ingin adegan banjir,.... 
Saya     : Oke! Cukup! Aneh sekali. Selanjutnya, Apa suka duka Mbak selama di Indonesia?
Storm   : Saya suka disini. Saya suka nasi goreng pete dan jengkol balado. Oh, ya, saya juga suka rendang. ini dagingnya masih nylilit di gigi saya. Anda lihat? Oh, yah, dan dukanya orang Indonesia susah sekali melafalkan nama saya. Kemarin saya ke restoran nasi padang, saya dipanggil Mbak Setrum, Mbak Setrum. Saya sedih.
Saya     : OKE! CUKUP! WAWANCARA DENGAN MBAK ABSURD SEKALI!!

Setelah wawancara yang tidak saya harapkan tadi, saya akhirnya bertemu dengan tokoh jagoan saya semasa kecil. Wolverine!! Saya harap wawancara kali ini lebih baik.


Mas Wolverine ketika teteknya diinfus

Saya         :  Halo Mas Wolverine! Bagaimana kabarnya?
Wolverine (W) : Seluruh tubuh saya sakit sekali. Perih semua.
Saya     :  Apa Mas baru saja melawan penjahat di Indonesia?
W        : Penjahat? Oh, tidak. Saya habis wax bulu badan. Semua bulu saya dicabut dengan lakban. Bersih, tapi perih sekali.
Saya     : .....Mas ternyata metroseksual juga ya. Apa yang mas lakukan disini?
W        : Ini bukan kunjungan pertama saya ke Indonesia. Saya sering kesini. Saya punya usaha disini.
Saya     : Oh, saya tidak tahu Mas punya usaha disini. Usaha apa?
W        : Menjadi mutant itu ga digaji lho. Jika nanti saya pensiun, saya harus punya  tabungan untuk masa tua. Makanya saya usaha. Saya bikin patung. Patung Pancoran itu saya yang bikin pakai kuku adamantium. Batunya saya ambil dari Gunung  Merbabu. Saya gelindingin sampai Jakarta.




Saya     : Wow! Dasyat sekali! Mas punya jiwa seniman ya?
W        : Ya, saat ini saya sedang membuat patung dengan tema eksotik. Semoga minggu depan kelar. Saya punya fotonya.


gambar diambil dari sini
nb : ini beneran ada di salah satu candi di Indonesia

Saya    : *mual*....CUKUP! EKSOTIS SEKALI! 
             Apa kesan Mas Wolverine selama di Indonesia?
W       : Saya suka sekali disini. Kalau bisa saya mau pensiun disini dan menikah dengan  orang sini. Kalau boleh milih, saya mau nikah sama sembilan anggota Cheribelle.
Saya    : Wanjrit...
W        : Oh, yah. Saya juga suka sekali dengan superhero Indonesia. Saya baru tau   ternyata disini juga ada kumpulan superhero ya?  
Saya    : Kumpulan superhero apa? *bingung*
W       : Itu saya lihat malam tadi di Youtube. Namanya TIM PEMBURU HANTU. Oh God! Eksotis sekali. Musuh mereka tak kasat mata. TIM PEMBURU HANTU sampai loncat, terpental, keren sekali. Saya suka adegan ada keris melayang-layang sendiri. Oh,  tapi saya salut. TIM PEMBURU HANTU tidak suka pembunuhan. Mereka lebih  memilih mengurung musuh di botol. Mereka hebat! Padahal botolnya kecil sekali.
Saya    : CUKUP! MEREKA BUKAN SUPERHERO MAS!? ARGHHH. CUT!!

Setelah wawancara yang tidak saya harapkan (lagi) tadi. Saya segera beranjak ke superhero ketiga. SPIDERMAN!! Wuhuuuu. Jagoan saya!

Serius! Bukan saya yang ngedit!

Saya   : Halo, Mas Spiderman. Maaf nunggu lama. Saya perhatikan anda tidak duduk dari  tadi selama saya wawancara dengan 2 superhero sebelumnya. Mas Spiderman   sudah tidak sabar saya wawancarai ya? Hehehe
Spiderman : Oh, tidak. Sejujurnya saya wasir. Dan, sejujurnya saya salah kostum hari ini. Ini kostum spiderman saya empat tahun lalu. Sudah kekecilan sekali.   Selangkangan saya lecet. Maaf, saya pulang dulu, wawancaranya pending besok ya

Spiderman meningggalkan saya, berjalan sedikit ngangkang sambil ngelus-elus selangkangan...

Begitulah wawancara saya dengan para Superhero. Semoga semakin menambah ilmu pengetahuan kita.

Sekian dari saya.  
             


Share:

Kamis, April 03, 2014

Saya Mencintai Tetangga Lebih Dari Istri Sendiri.

Saya mencintai  tetangga lebih dari istri sendiri.

Begitu kira-kira ungkapan hati seorang tukang tambal ban dengan pengalaman kerja lima belas tahun tujuh bulan yang istrinya menjadi TKI di semenanjung arab delapan tahun terakhir. 

Ya, saya.

Saya menanggung beban sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu rumah tangga bagi tiga anak saya. Anak pertama saya masih kelas satu SMP, empat kali tidak naik kelas. Anak kedua saya tidak sekolah, cacat mental kata dokter di puskesmas. Setiap hari saya yang memandikan dan mengurusnya buang hajat. Merepotkan. Bahkan muka dia tidak mirip saya. Anak saya yang ketiga kelas dua SD, sudah tiga hari ini tidak mau sekolah karena sepatu kirinya jebol di samping. Saya berjanji membelikannya sepatu baru, tapi tiga hari ini janji tersebut masih belum saya tepati.

Istri saya sudah tiga tahun tidak pulang, tidak memberi kabar, bahkan tidak menyetor uang selama kurun waktu itu. Saya tidak bisa menghubunginya, saya tidak punya telepon. Jika punya pun saya tidak tahu mau telepon kemana. Saya punya alamatnya, sembilan belas kali saya mengirim surat. Tidak ada balasan. Surat saya yang ke duapuluh masih setengah ditulis. Sudah habis asa saya. Surat yang keduapuluh saya biarkan saja setengah jadi tanpa pernah terkirim. 

Saya melarat. Saya berhutang kepada tetangga sebelah limaratus ribu untuk membayar sewa lapak tambal ban di jalan raya sana. Sewa lapaknya dua ratus ribu sebulan. Dua bulan saya belum bayar. Lokasinya strategis, di perempatan. Setiap hari ada saja ban motor dan mobil yang bocor. Paling sedikit tiga, paling banyak lima belas. Saya tidak segila tukang tambal ban lain yang menebar paku di pagi buta. Saya juga tidak ke dukun minta penglaris supaya banyak ban kecoblos, kebalikan sama caleg-caleg dan capres-capres yang ke dukun malah minta supaya banyak yang nyoblos. 

Tapi saya harus bayar uang keamanan ke preman-preman jalanan seratus ribu setiap bulan. Uang keamanan sampah! Tetap saja saya diperas mereka setiap hari. Belum pula dua kali saya kena garuk Satpol PP. Kata mereka, tempat saya tidak berijin. Padahal saya sudah sewa lapak ini. Hah! Ijin sama siapa komandan? Ini jalan negara, jadi saya harus minta ijin presiden begitu? Maaf komandan, presiden tidak kenal orang kecil macam saya. Presiden cuma kenal istrinya, menteri, dan direktur. Orang macam saya ini apa? Apalagi disuruh minta ijin buka tambal ban ke presiden. 

Kembali kepada masalah hutang. Tetangga saya baik sekali. Janda empat puluh tujuh tahun dengan satu orang anak. Bercerai sepuluh tahun lalu. Mantan suaminya menikah lagi dengan seorang waria asal Thailand. Orientasi seksualnya memang jadi pemisah pernikahan mereka. Janda itu kaya raya. Kata orang-orang, orang tuanya bekas jenderal. Janda itu punya perusahaan travel besar. Nomor empat terbesar se-Indonesia Raya. Anaknya yang sekarang mengurus perusahaan itu. 

Rumahnya tingkat empat. Ada kolam renang besar di belakang rumah. Saya tahu ketika saya beranikan diri meminjam uang kepadanya lima hari lalu. Kata orang, dia dermawan. Pinjam saja, pasti dikasih. Dia tidak peduli dengan uang. Uangnya terlalu banyak untuk dihitung. Kebalikan dengan saya, uang saya terlalu sedikit untuk dihitung. bahkan saya kadang tidak perlu menghitung karena memang tidak ada uang tersisa di dompet atau di stoples plastik bekas astor diatas meja makan rumah saya. 

Pembantu rumahnya bilang, saya disuruh kebelakang. Majikan sedang berenang, katanya. Saya lalu masuk ke istana megah itu. Ada banyak botol-botol minuman di lemari dekat meja makan. Botol minuman yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya. Mengeja nama minuman itu pun membuat lidah saya kelu. Jack apalah, Jose apapun itu. Susah.  Tapi ada satu nama minuman yang mudah saya eja dan namanya kampungan sekali. Martini. Hahaha, sama seperti nama nenek saya. Martini, cuma satu kata. Tanpa embel-embel. Orang kampung memanggilnya Tini. Tidak saya kira, ada nama minuman seperti nama nenek saya.

Tiba saya di kolam renang. Tetangga saya sudah beranjak dari kolam terbungkus baju handuk putih yang kelihatan mahal. Simpul sederhana terikat diperutnya. Air kolam masih menetes dari rambut dan dagunya. Empat puluh tujuh tahun tapi seperti masih tiga puluh tahun. Wajahnya tidak menampakkan kerut sama sekali. Perawatan orang kaya, pikir saya. Umur saya, empat puluh tahun, dahi saya, pipi saya, tangan saya, semua penuh kerut.  Kulit saya legam, nyonya besar itu berkulit putih gading. Tionghoa? Bukan. Dayak. Ya, orang Dayak memang putih-putih, begitu kata teman saya yang pernah bekerja di pabrik sawit di Borneo sana.

Cantik. Ya, bagi saya ini, wanita ber make up pun saya sebut cantik. Meskipun saat ini, dia cuma berbasah-basah tanpa make up sedikitpun, dia cantik. Tak terbantahkan. Saya jelaskan kepadanya betapa saya membutuhkan pinjaman uang empat ratus ribu untuk sewa lapak dua bulan. Dia bilang akan beri lima ratus ribu. Saya bilang tidak perlu lebih, saya takut tidak bisa mengembalikan. Dia bilang, kembalikan saja empat ratus ribu jika ada uang. Dia tidak memberi batas waktu. Ikhlas, katanya. 

Habis kata-kata saya.   

Dia bicara lagi, pelan-pelan kali ini, dia bilang akan memberi saya delapan ratus ribu setiap bulan dengan syarat. Syarat apa kata saya. Dia jawab, temani tidur seminggu dua kali setiap hari rabu dan jumat jam delapan malam. 

Lagi-lagi habis kata-kata saya.

Dia bicara lagi, dia bilang susah jadi janda selama sepuluh tahun. Nafsu tidak bisa ditahan. Saya bicara dalam hati, saya tiga tahun tanpa istri. Nafsu memang tidak bisa ditahan.

Saya mengangguk tanpa kata-kata. Dia tersenyum lebar.

Hari ini hari Rabu. Jumat kemarin saya sudah tidur bersamanya. Gila. Wanita kaya memang gila. Nafsu seperti kuda. Saya senang, nafsu saya juga kuda. Kuda bertemu kuda. Liar sekali.

Saya menunggu waktu-waktu seperti ini. Saya tidak lagi merindukan istri saya.

Seperti saya bilang, saya mencintai  tetangga lebih dari istri sendiri.

Meskipun dia hanya menganggap saya sebagai budak semata.


gambar diambil dari sini
-----------------------------------------------------

-lagi bosan-
Share: