Welcome

sebuah catatan tentang perjuangan seorang asisten tukang cukur

Insert Investigatif : Superhero!!

Senin, April 07, 2014

Oke, mungkin ini terdengar sangat tidak masuk akal. Tapi percayalah, saya benar-benar melakukan hal yang mungkin hanya Louis Lane saja yang pernah. Ya, mewawancarai superhero! Jika memang kalian sungguh-sungguh tidak percaya, maka jangan teruskan membaca artikel ini. Jika kalian percaya, anda hebat! 

Sebagai intermezzo, saya akan berbagi sebuah informasi. Sembilan hari yang lalu, tiga superhero datang ke Indonesia. Ketiganya punya nama besar di dunia, tentu saja di Indonesia pun juga. Siapa yang tidak kenal mereka. Saya akan mulai wawancara dengan satu-satunya superhero wanita yang ada diantara kami. Storm! Saya melakukan wawancara dengan bahasa inggris, untuk kepentingan kalian saya sudah mengalih bahasakan ke bahasa Indonesia.


dapet foto candid. dia ga sadar ada kamera di belakang. hehehe

Saya     : Halo Mbak Storm! Senang berjumpa dengan anda? Apa kabar?
Storm   : Halo, kabar saya baik.
Saya     : Sebelum saya mulai wawancara dengan pertanyaan serius, ada satu pertanyaan yang cukup menganggu saya selama ini. Mbak Storm bergabung dengan X-Men. Men itu kan laki-laki. Kenapa Mbak bisa masuk ya?
Storm   : Saya dulunya laki-laki.
Saya     : ANJRIT! Eh, maaf Mbak, eh Mas. OKE! Mbak aja ya!Suatu kehormatan Mbak Storm bisa datang ke Indonesia. Apa yang Mbak lakukan  disini?
Storm   : Saya disini untuk melancarkan acara kampanye beberapa partai. 
Saya     : Oh, Mbak mendukung partai tertentu?
Storm   : Saya tidak bilang mendukung, saya bilang saya hanya melancarkan
Saya     : Konkritnya seperti apa, Mbak?
Storm   : Begini, mudahnya adalah saya berusaha supaya acara kampanye tidak terganggu oleh hujan deras dan angin kencang. Masyarakat Indonesia mungkin mengenal kegiatan yang saya lakukan ini dengan sebutan pawang hujan  
Saya     : Ooooh! Pawang Hujan. Uhmmm, yah....menarik. Sesuai kemampuan unik Mbak ya? 
Storm   : Betul. Saya bisa memanipulasi cuaca. Tapi khusus di Indonesia, saya masih membutuhkan beberapa tambahan, misalnya : dua telur ayam kampung, ketan putih yang dibungkus daun pisang, tiga rokok kretek, dan kopi hitam pahit satu cangkir.
Saya     : Wow, Mbak makan itu semua? 
Storm   : Bukan, itu untuk sajen.
Saya     : SAJEN!? Buat apa Mbak butuh sajen? Bukankah Mbak mampu untuk mengubah cuaca?
Storm   : Ya, sebenarnya kalau anda lihat behind the scene film X-Men, saya selalu sedia  sajen tiap kali adegan memanipulasi cuaca. Kalau pengen panas, sajennya seperti tadi. Kalau pengen petir, telur ayam kapungnya diganti telur bebek. Kalau salju, ketannya digati ketupat. Kalau pengen ada kabut, kopi hitamnya diganti Fanta. Dan, kalau ingin adegan banjir,.... 
Saya     : Oke! Cukup! Aneh sekali. Selanjutnya, Apa suka duka Mbak selama di Indonesia?
Storm   : Saya suka disini. Saya suka nasi goreng pete dan jengkol balado. Oh, ya, saya juga suka rendang. ini dagingnya masih nylilit di gigi saya. Anda lihat? Oh, yah, dan dukanya orang Indonesia susah sekali melafalkan nama saya. Kemarin saya ke restoran nasi padang, saya dipanggil Mbak Setrum, Mbak Setrum. Saya sedih.
Saya     : OKE! CUKUP! WAWANCARA DENGAN MBAK ABSURD SEKALI!!

Setelah wawancara yang tidak saya harapkan tadi, saya akhirnya bertemu dengan tokoh jagoan saya semasa kecil. Wolverine!! Saya harap wawancara kali ini lebih baik.


Mas Wolverine ketika teteknya diinfus

Saya         :  Halo Mas Wolverine! Bagaimana kabarnya?
Wolverine (W) : Seluruh tubuh saya sakit sekali. Perih semua.
Saya     :  Apa Mas baru saja melawan penjahat di Indonesia?
W        : Penjahat? Oh, tidak. Saya habis wax bulu badan. Semua bulu saya dicabut dengan lakban. Bersih, tapi perih sekali.
Saya     : .....Mas ternyata metroseksual juga ya. Apa yang mas lakukan disini?
W        : Ini bukan kunjungan pertama saya ke Indonesia. Saya sering kesini. Saya punya usaha disini.
Saya     : Oh, saya tidak tahu Mas punya usaha disini. Usaha apa?
W        : Menjadi mutant itu ga digaji lho. Jika nanti saya pensiun, saya harus punya  tabungan untuk masa tua. Makanya saya usaha. Saya bikin patung. Patung Pancoran itu saya yang bikin pakai kuku adamantium. Batunya saya ambil dari Gunung  Merbabu. Saya gelindingin sampai Jakarta.




Saya     : Wow! Dasyat sekali! Mas punya jiwa seniman ya?
W        : Ya, saat ini saya sedang membuat patung dengan tema eksotik. Semoga minggu depan kelar. Saya punya fotonya.


gambar diambil dari sini
nb : ini beneran ada di salah satu candi di Indonesia

Saya    : *mual*....CUKUP! EKSOTIS SEKALI! 
             Apa kesan Mas Wolverine selama di Indonesia?
W       : Saya suka sekali disini. Kalau bisa saya mau pensiun disini dan menikah dengan  orang sini. Kalau boleh milih, saya mau nikah sama sembilan anggota Cheribelle.
Saya    : Wanjrit...
W        : Oh, yah. Saya juga suka sekali dengan superhero Indonesia. Saya baru tau   ternyata disini juga ada kumpulan superhero ya?  
Saya    : Kumpulan superhero apa? *bingung*
W       : Itu saya lihat malam tadi di Youtube. Namanya TIM PEMBURU HANTU. Oh God! Eksotis sekali. Musuh mereka tak kasat mata. TIM PEMBURU HANTU sampai loncat, terpental, keren sekali. Saya suka adegan ada keris melayang-layang sendiri. Oh,  tapi saya salut. TIM PEMBURU HANTU tidak suka pembunuhan. Mereka lebih  memilih mengurung musuh di botol. Mereka hebat! Padahal botolnya kecil sekali.
Saya    : CUKUP! MEREKA BUKAN SUPERHERO MAS!? ARGHHH. CUT!!

Setelah wawancara yang tidak saya harapkan (lagi) tadi. Saya segera beranjak ke superhero ketiga. SPIDERMAN!! Wuhuuuu. Jagoan saya!

Serius! Bukan saya yang ngedit!

Saya   : Halo, Mas Spiderman. Maaf nunggu lama. Saya perhatikan anda tidak duduk dari  tadi selama saya wawancara dengan 2 superhero sebelumnya. Mas Spiderman   sudah tidak sabar saya wawancarai ya? Hehehe
Spiderman : Oh, tidak. Sejujurnya saya wasir. Dan, sejujurnya saya salah kostum hari ini. Ini kostum spiderman saya empat tahun lalu. Sudah kekecilan sekali.   Selangkangan saya lecet. Maaf, saya pulang dulu, wawancaranya pending besok ya

Spiderman meningggalkan saya, berjalan sedikit ngangkang sambil ngelus-elus selangkangan...

Begitulah wawancara saya dengan para Superhero. Semoga semakin menambah ilmu pengetahuan kita.

Sekian dari saya.  
             


Saya Mencintai Tetangga Lebih Dari Istri Sendiri.

Kamis, April 03, 2014

Saya mencintai  tetangga lebih dari istri sendiri.

Begitu kira-kira ungkapan hati seorang tukang tambal ban dengan pengalaman kerja lima belas tahun tujuh bulan yang istrinya menjadi TKI di semenanjung arab delapan tahun terakhir. 

Ya, saya.

Saya menanggung beban sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu rumah tangga bagi tiga anak saya. Anak pertama saya masih kelas satu SMP, empat kali tidak naik kelas. Anak kedua saya tidak sekolah, cacat mental kata dokter di puskesmas. Setiap hari saya yang memandikan dan mengurusnya buang hajat. Merepotkan. Bahkan muka dia tidak mirip saya. Anak saya yang ketiga kelas dua SD, sudah tiga hari ini tidak mau sekolah karena sepatu kirinya jebol di samping. Saya berjanji membelikannya sepatu baru, tapi tiga hari ini janji tersebut masih belum saya tepati.

Istri saya sudah tiga tahun tidak pulang, tidak memberi kabar, bahkan tidak menyetor uang selama kurun waktu itu. Saya tidak bisa menghubunginya, saya tidak punya telepon. Jika punya pun saya tidak tahu mau telepon kemana. Saya punya alamatnya, sembilan belas kali saya mengirim surat. Tidak ada balasan. Surat saya yang ke duapuluh masih setengah ditulis. Sudah habis asa saya. Surat yang keduapuluh saya biarkan saja setengah jadi tanpa pernah terkirim. 

Saya melarat. Saya berhutang kepada tetangga sebelah limaratus ribu untuk membayar sewa lapak tambal ban di jalan raya sana. Sewa lapaknya dua ratus ribu sebulan. Dua bulan saya belum bayar. Lokasinya strategis, di perempatan. Setiap hari ada saja ban motor dan mobil yang bocor. Paling sedikit tiga, paling banyak lima belas. Saya tidak segila tukang tambal ban lain yang menebar paku di pagi buta. Saya juga tidak ke dukun minta penglaris supaya banyak ban kecoblos, kebalikan sama caleg-caleg dan capres-capres yang ke dukun malah minta supaya banyak yang nyoblos. 

Tapi saya harus bayar uang keamanan ke preman-preman jalanan seratus ribu setiap bulan. Uang keamanan sampah! Tetap saja saya diperas mereka setiap hari. Belum pula dua kali saya kena garuk Satpol PP. Kata mereka, tempat saya tidak berijin. Padahal saya sudah sewa lapak ini. Hah! Ijin sama siapa komandan? Ini jalan negara, jadi saya harus minta ijin presiden begitu? Maaf komandan, presiden tidak kenal orang kecil macam saya. Presiden cuma kenal istrinya, menteri, dan direktur. Orang macam saya ini apa? Apalagi disuruh minta ijin buka tambal ban ke presiden. 

Kembali kepada masalah hutang. Tetangga saya baik sekali. Janda empat puluh tujuh tahun dengan satu orang anak. Bercerai sepuluh tahun lalu. Mantan suaminya menikah lagi dengan seorang waria asal Thailand. Orientasi seksualnya memang jadi pemisah pernikahan mereka. Janda itu kaya raya. Kata orang-orang, orang tuanya bekas jenderal. Janda itu punya perusahaan travel besar. Nomor empat terbesar se-Indonesia Raya. Anaknya yang sekarang mengurus perusahaan itu. 

Rumahnya tingkat empat. Ada kolam renang besar di belakang rumah. Saya tahu ketika saya beranikan diri meminjam uang kepadanya lima hari lalu. Kata orang, dia dermawan. Pinjam saja, pasti dikasih. Dia tidak peduli dengan uang. Uangnya terlalu banyak untuk dihitung. Kebalikan dengan saya, uang saya terlalu sedikit untuk dihitung. bahkan saya kadang tidak perlu menghitung karena memang tidak ada uang tersisa di dompet atau di stoples plastik bekas astor diatas meja makan rumah saya. 

Pembantu rumahnya bilang, saya disuruh kebelakang. Majikan sedang berenang, katanya. Saya lalu masuk ke istana megah itu. Ada banyak botol-botol minuman di lemari dekat meja makan. Botol minuman yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya. Mengeja nama minuman itu pun membuat lidah saya kelu. Jack apalah, Jose apapun itu. Susah.  Tapi ada satu nama minuman yang mudah saya eja dan namanya kampungan sekali. Martini. Hahaha, sama seperti nama nenek saya. Martini, cuma satu kata. Tanpa embel-embel. Orang kampung memanggilnya Tini. Tidak saya kira, ada nama minuman seperti nama nenek saya.

Tiba saya di kolam renang. Tetangga saya sudah beranjak dari kolam terbungkus baju handuk putih yang kelihatan mahal. Simpul sederhana terikat diperutnya. Air kolam masih menetes dari rambut dan dagunya. Empat puluh tujuh tahun tapi seperti masih tiga puluh tahun. Wajahnya tidak menampakkan kerut sama sekali. Perawatan orang kaya, pikir saya. Umur saya, empat puluh tahun, dahi saya, pipi saya, tangan saya, semua penuh kerut.  Kulit saya legam, nyonya besar itu berkulit putih gading. Tionghoa? Bukan. Dayak. Ya, orang Dayak memang putih-putih, begitu kata teman saya yang pernah bekerja di pabrik sawit di Borneo sana.

Cantik. Ya, bagi saya ini, wanita ber make up pun saya sebut cantik. Meskipun saat ini, dia cuma berbasah-basah tanpa make up sedikitpun, dia cantik. Tak terbantahkan. Saya jelaskan kepadanya betapa saya membutuhkan pinjaman uang empat ratus ribu untuk sewa lapak dua bulan. Dia bilang akan beri lima ratus ribu. Saya bilang tidak perlu lebih, saya takut tidak bisa mengembalikan. Dia bilang, kembalikan saja empat ratus ribu jika ada uang. Dia tidak memberi batas waktu. Ikhlas, katanya. 

Habis kata-kata saya.   

Dia bicara lagi, pelan-pelan kali ini, dia bilang akan memberi saya delapan ratus ribu setiap bulan dengan syarat. Syarat apa kata saya. Dia jawab, temani tidur seminggu dua kali setiap hari rabu dan jumat jam delapan malam. 

Lagi-lagi habis kata-kata saya.

Dia bicara lagi, dia bilang susah jadi janda selama sepuluh tahun. Nafsu tidak bisa ditahan. Saya bicara dalam hati, saya tiga tahun tanpa istri. Nafsu memang tidak bisa ditahan.

Saya mengangguk tanpa kata-kata. Dia tersenyum lebar.

Hari ini hari Rabu. Jumat kemarin saya sudah tidur bersamanya. Gila. Wanita kaya memang gila. Nafsu seperti kuda. Saya senang, nafsu saya juga kuda. Kuda bertemu kuda. Liar sekali.

Saya menunggu waktu-waktu seperti ini. Saya tidak lagi merindukan istri saya.

Seperti saya bilang, saya mencintai  tetangga lebih dari istri sendiri.

Meskipun dia hanya menganggap saya sebagai budak semata.


gambar diambil dari sini
-----------------------------------------------------

-lagi bosan-

Kamu

Rabu, April 02, 2014

Empat belas tiga puluh


Jam tangan digital saya berhenti di angka tersebut. Masih sekian jam lagi sebelum pulang. Saya tidak mampu menghitung berapa jam lagi sampai dengan jam tujuh belas. Otak saya buntu. Hitung-hitungan matematika mudah pun saya tidak mampu menjawabnya. 

Ini semua gara-gara "asmara". 

Asmara membajak semua sistem di otak saya. Makan tak teratur, tidur tidak nyenyak, mandi tidak bersih (ah, ini semua gara-gara sabun yang sudah empat hari habis). 

Pikiran saya dipaksa fokus pada empat kata. K-A-M-U. 


gambar diambil dari sini


Tunggu! Itu empat huruf. 

Ah! Lagi-lagi otak saya kacau.

Kamu. Saya bahkan tidak tahu siapa nama kamu. Saya akan panggil kamu dengan sebutan 'Kamu' saja. Saya tidak bisa berpikir sebutan apa yang lebih indah dari itu. Sudah saya bilang kan, otak saya buntu. 
gambar diambil dari sini

Seandainya dua hari kemarin Kamu tidak datang kepada saya dengan senyuman manis itu, mungkin hari ini saya masih baik-baik saja. Kamu mungkin lebih tinggi limabelas centimeter dari saya, rambut Kamu lurus sebahu, baju motif geometris dan tas jinjing Zara warna coklat. Kamu menanyakan kepada saya dimana letak jalan manggar dua nomor empat puluh sembilan itu. Saya jawab itu tiga belas kilometer dari sini. Naik angkot nomor tiga bayar saja tiga ribu kata saya. Kamu tersenyum lagi, kali ini gingsul di gigi taring itu membuat saya hampir pingsan saking manisnya wajah Kamu. Tapi saya tidak pingsan, rugi tidak memandangi wajah Kamu lama-lama. Saya jatuh asmara, sepertinya. Jatuh cinta sudah biasa, jatuh asmara mungkin terdengar luar biasa bagi saya. 

Kamu jawab mau berjalan kaki saja, mumpung cuaca sedang baik.

Cuaca memang sedang baik. Kemarau bulan ketiga. Hujan baru turun tiga bulan lagi jika penjelasan guru geografi saya benar. Angin muson timur masih bertiup. Tapi kata ahli, global warming mengubah kebiasaan cuaca.

Lalu saya berdoa dalam hati, meminta hujan turun. Sederas-derasnya.

Tuhan sayang sama saya.

Tiga setengah langkah Kamu berjalan, hujan benar-benar datang. Sederas-derasnya. Angin sekencang-kencangnya. Rok kamu tersibak. Hati saya berdetak kencang. Sial kata saya, Kamu ternyata pakai hot pants. 

Kamu berlari kembali ke arah saya, bukan, ke warung dibelakang saya. Saya tahu Kamu pasti berteduh. Saya juga, Saya mau berteduh dekat Kamu. Maka, saya berlari kecil menuju ke warung itu, tepat pada saat petir menyambar kencang pohon disamping saya. Saya hanya melihat kilatan, kemudian semua menjadi hitam.

Yang saya ingat, kepala saya nyeri. Saya membuka mata perlahan sambil meringis. Saya tidak tahu pasti dimana saya, tapi saya yakin saya berada di empuknya sebuah kasur. Baju dan celana saya basah, sepatu saya entah kemana. Saya dikelilingi oleh wajah-wajah asing. Kerumunan wajah-wajah asing itu mengitari saya sambil berkata banyak hal. Saya tidak mampu mendengar dengan baik. Rasa nyeri di kepala saya masih belum mereda. Semakin riuh kegaduhan kerumunan di sekeliling saya, semakin nyeri kepala ini.

Lalu tiba-tiba wajah Kamu muncul dari kerumunan. Kamu berkata, anehnya saya mendengar sangat jelas. Saya berlari saat petir menyambar pohon disamping saya. Pohon itu tumbang, rantingnya berjatuhan. Salah satu ranting berdiameter seperti galon Aqua menjatuhi saya. Saya pingsan dan kemudian dibawa orang-orang ke sebuah rumah didekat sini. Begitu katamu.

Saya tak percaya ada ranting sebesar galon Aqua, bahkan jika memang ada, saya heran jika memang ranting sebesar galon Aqua menjatuhi saya seharusnya saya sudah koma atau mati. Begitu kata saya. Kamu tertawa, lalu  meminta maaf, seharusnya ranting sebesar botol Aqua, jelas Kamu. Saya bertanya botol Aqua berapa liter. Kamu jawab botol Aqua tigaratus mililiter. Sial, kecil sekali, kata saya. 

Kamu bilang, saya seharusnya segera ke rumah sakit. Kepala saya bocor harus dijahit. Saya tidak percaya ranting sebesar botol Aqua tigaratus mililiter bisa membuat kepala saya bocor. Saya bangkit dari tempat tidur dan seketika itu pula, darah mengucur deras dari kepala saya. Saya pusing kemudian pingsan lagi. Saya masih bisa mendengar teriakan kekhawatiran dari Kamu tepat sebelum saya benar-benar tidak sadar lagi. Saya bahagia sebelum benar-benar pingsan.

pengennya gini, tapi ga kesampean
gambar diambil dari sini

-------------------------------------------


Kata suster, saya pingsan dua jam. Kepala saya mendapat empat belas jahitan. Suster bilang, saya kejatuhan pipa besi dengan diameter seukuran bola tenis, bukan kayu. Saya bertanya kenapa ada orang menaruh pipa besi di atas pohon. Suster bilang tidak tahu, yang jelas bukan dia katanya. Saya bertanya lagi siapa yang mengantar saya ke rumah sakit. Suster menjawab ada seorang wanita yang mungkin lebih tinggi limabelas centimeter dari saya, rambut  lurus sebahu, baju motif geometris dan tas jinjing Zara warna coklat yang mengantar saya dengan mencarter angkot nomor tiga. Ah, pasti Kamu !

Suster bilang, saya boleh pulang hari itu juga setelah menyelesaikan administrasi. Rupanya Kamu tidak sekalian membayar biaya pengobatan saya, bahkan meninggalkan nama pun tidak. Dan saya baru tahu, Kamu membawa saya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Jika diingat-ingat, memang rumah sakit ini yang paling dekat dengan lokasi saya pingsan.

Lalu disinilah saya dua hari kemudian.  Luka di kepala saya masih berdenyut-denyut nyeri. Suster bilang jahitannya tidak usah dicopot, nanti akan menyatu dengan daging. Sama seperti Kamu, menyatu dengan alam bawah sadar saya, meski saya tidak tahu nama Kamu. satu petunjuk pun saya tidak tahu.

Kamu benar-benar menguras habis otak saya. Hari ini saya ditegur lima kali oleh Kepala Seksi Hukum saya karena lima kali saya salah mengira ruangan dia sebagai toilet. Memang bersebelahan, tapi memang kelewatan jika kubikel dengan kaca tembus pandang punya dia saya samakan dengan toilet. Saya bahkan lupa jika hari ini adalah deadline tugas dari Pak Direktur saya. Siang tadi saya disemprot tiga jam oleh Pak Direktur, dan untungnya karena memikiran Kamu, saya lupa apa saja yang sudah tersemprot dari mulut Pak Direktur kepada saya.

Dipikiran saya, seperti ada kata-kata dari Kamu bicara pada saya "Aku halal untukmu...". Meski saya tahu itu halusinasi, saya menganggapnya itu benar-benar nyata. Saya ngarep...


Tidak terasa membayangkan kembali cerita tadi membuat waktu berjalan sangat cepat. Jam tujuhbelas tepat. Saya harus segera pulang. 

Ah!

Saya baru ingat, ada satu hal yang saya ingat tentang Kamu. 

Alamat yang Kamu tanyakan, jalan manggar dua nomor empat puluh sembilan itu. 

Mungkin jika saya bertanya kesana, saya akan mendapat sedikit petunjuk tentang Kamu.

Semoga...

------------------------------------------


ditulis ketika sedang flu. empat kali bersin, dua kali ke toilet, dan tak terhitung berapa kali mencabut bulu hidung selama mengetik

Aku Jenuh Denganmu

Senin, September 02, 2013

Aku sudah jenuh denganmu. 
 
Tigapuluhenam bulan pacaran denganmu dan tak satu hari pun aku bahagia. 
 
Tiga kali aku mengajukan putus, kau tak mau. Tiga kali alasan berbeda yang aku sampaikan, kau mentahkan. 
 
 
 
Orang tuaku tak setuju, kataku. Kau bilang, tak perlu restu, kawin lari saja kita. Aku bilang, kau gila. Kau bilang, ya, aku memang gila. Aku diam, tak bisa membalas. Aku lupa fakta bahwa empat bulan kamu masuk rumah sakit jiwa karena kasus video youtube melamar kuda di jalan raya yang kau unggah dulu.
 
Ya, aku pacaran dengan perempuan sakit jiwa.
 
 
Alasan kedua yang aku sampaikan kepadamu : aku sudah tak cinta lagi kepadamu. Kau elakkan pula. Jawabanmu, aku bisa paksa kamu mencintaiku. Kau todongkan pisau kecil ke perutku. Aku bisa apa.
 
Baru aku tahu, psikiatermu bilang, kamu memang punya kecenderungan psikopat.
 
 
Alasan ketiga, aku bilang kepadamu : harga kedelai naik sayang, aku tak bisa terus-terusan membayarimu makan tempe penyet setiap kali kita pacaran. Kamu diam. Aku pikir akhirnya alasanku berhasil. Dua jam setelahnya, di headline tv swasta ada berita kamu tertangkap merampok bank. Alasanmu didepan para wartawan, supaya bisa makan tempe penyet tiap hari bersama pacar.
 
 
 
Dan gara-gara alasanmu itu, aku ikut pula dijebloskan ke penjara dengan dugaan bersekongkol...
 
Tigapuluhenam bulan pacaran denganmu dan tak satu hari pun aku bahagia. 
 
 
NB : diketik ketika bosan luar biasa dengan kerjaan
 
cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat, waktu, dan peristiwa maka kasiaaaaan deh lu....