Rabu, Januari 04, 2017

Panggilan

​Tujuh belas tahun berdiam di lereng gunung merbabu, turun gunung menuju kota yang didirikan oleh Pangeran Pandan Arang. Mencari bekal disana selama empat tahun. 

Ada petualangan  yang memanggil. Tanah Sunda merayu saya untuk datang dan meminta  untuk tinggal. Dua setengah tahun. Memang tidak lama, tapi kenangannya masih berbekas sampai sekarang. 

Dari tanah Sunda, singgahlah saya sebentar sekedar menikmati Cotto dan Palu Basa. Enam bulan saja. 

Karena Borneo memberikan undangan. Jelajahi. Sampai ke ujung. Sampai kamu puas. Tawarannya tak bisa ditolak. 

Lima setengah tahun. Sampai kemudian, datanglah panggilan lain. Dari kota yang terendap lumpur. 

Kali ini, Jawa Timur menunggu saya

Salatiga.... 

Maaf, meskipun sungguh saya ingin pulang dan mendekapmu, petualangan saya masih belum boleh berakhir. 

Setidaknya, bukan di Jawa Timur.

Karena, saya ingin awal dan akhir yang sama. Memulai darimu dan mengakhirkan semua di kamu. Lalu, saya akan punya banyak kisah untuk diceritakan. 

Jumat, Desember 23, 2016

Lampu Merah, Berhenti atau Mati

diambil dari sini

Sempak adalah umpatan yang relatif sopan ketika lampu lampu lintas perempatan berwarna hijau, kamu mau lurus, tapi tiba-tiba dari arah kirimu ada motor nikung mau belok kanan.

Umpatan lain yang masih dalam batas wajar adalah Asu tenan! Meskipun sopan, jika kamu ngumpat ketika sedang memboncengkan ibumu, bisa dipastikan bibirmu dislomot ke knalpot oleh ibumu sendiri.

Kolaborasi antara mental nekad dan SIM nembak, hampir selalu menimbulkan kecelakaan. Plus dibarengi dengan kesadaran berlalu lintas yang setipis pembalut wanita membuat jalan raya Indonesia ibarat arena bunuh-bunuhan. Terserempet, tertabrak, terlindas, atau terserempet-tertabrak-kemudian terlindas. Yang terakhir ini, sungguh beruntung jika wajahnya masih bisa dikenali.

Seandainya Indonesia punya hukum tembak ditempat untuk pengguna lalu lintas yang ugal-ugalan.

*)ditulis setelah kejadian ibu-ibu nerobos lampu merah di perempatan dan hampir aja nabrak saya

diambil dari sini

Kamis, Desember 22, 2016

Pribumi, Tanpa Embel-Embel

"Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! ~Soekarno


Lama-lama, saya gerah juga lihat tulisan-tulisan tak bermoral yang menyebut pribumi-non pribumi. Apalagi disebarkan oleh media jurnalistik online abal-abal, tanpa redaktur, tanpa editor, bahkan tanpa wartawan. Kerjaannya : copy paste berita, plintir-plintir, bikin judul bombastis, kalau perlu pakai tanda tanya-biar sok-sok ambigu.

Pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut. ~wikipedia



Sejak Tahun 1998, Pemerintah Indonesia telah menghentikan istilah pribumi dan non pribumi melalui sebuah Instruksi Presiden.

Diktum Kedua Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi Dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, Ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan (“Inpres 26/1998”), maka pejabat penyelenggara pemerintahan wajib untuk memberikan perlakuan dan layanan yang sama kepada seluruh WNI dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan, dan meniadakan pembedaan dalam segala bentuk, sifat serta tingkatan kepada WNI baik atas dasar suku, agama, ras maupun asal-usul dalam penyelenggaraan tersebut.

Lah, ini kok sekarang kita kembali ke zaman penjajahan dulu. Zaman ketika masyarakat Indonesia sengaja digolongkan oleh kolonial Hindia Belanda demi tujuan politis.

Istilah "Pribumi" sendiri muncul di era kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari Inlander (bahasa Belanda untuk "Pribumi"), istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial (Reglement Regering) Belanda tahun 1854 oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial.

Pasal 163 Indische Staatsregeling (IS) adalah sebuah pasal yang mengatur pembagian golongan dihadapan hukum pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Pasal ini baru berlaku sejak Indische Staatsregeling mulai berlaku pada tahun 1926 sebagai pengganti Reglement Regering . Pasal ini secara ringkas menjelaskan bahwa  Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah "Europeanen" ("Eropa" kulit putih); ras kelas kedua adalah "Vreemde Oosterlingen" ("Timur Asing") yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah "Inlander", yang kemudian diterjemahkan menjadi "Pribumi". Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras ("wet van wijkenstelsel") dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum "passenstelsel". Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs ("Orang Indonesia").

Sekarang, di Tahun 2016 ini, masih ada teriak-teriak pribumi non pribumi. Mau balik ke zaman kolonialisme, mas?

Atau jangan-jangan sampeyan itu yang penjajah?

Kasus penistaan agama kemarin, sebenarnya cukup sebagai kasus penistaan saja. Saya sendiri sepakat kasus tersebut memang harus digiring ke ranah hukum, karena -menurut saya- unsur penistaan agamanya jelas kok.

TAPI!

Saya tidak setuju dengan sebagian orang yang memperkeruh sehingga menyinggung masalah ras. Parahnya lagi, dari yang sebagian ini, kemudian malah jadi semakin besar gara-gara tindakan provokatif, amoral, menyebarkan berita-berita tidak benar, memecah belah masyarakat Indonesia.

Bedebah.

salah satu demo paling ga jelas. diambil dari sini


Sampai sekarang, Whatsapp dan feeds Facebook saya masih dibanjiri pernyataan dan istilah provokatif : ancaman non pribumi, pemimpin KTP non pribumi, apalah.

Seharusnya istilah pribumi-non pribumi ini dipakai dalam kondisi yang tepat.

Misalnya :

RIBUAN TURIS DARI PLUTO RAMAIKAN OM TELOLET OM

ULTRAMAN KUASAI USAHA PENGHANCURAN GEDUNG

Barulah, kita manusia Bumi mulai terancam. Nasib pribumi terancam oleh pri-planet lain.

Tetapi, sesungguhnya yang paling seram adalah : ketika pribumi, dikuasai oleh primata.

*)tulisan ini dapat dibaca di https://adapapadisini.wordpress.com/


Selasa, Desember 20, 2016

Aturan Sederhana Freeletics

Terhitung sejak hari ini, berarti saya sudah 7 hari berhenti melakukan freeletics karena terpaksa. Tiga hari karena bahu saya sedikit cedera setelah workout terakhir, dan begitu cedera mendingan, 4 hari sisanya, termasuk hari ini, terpaksa absen karena flu. Meskipun jargon freeletics "quit is not an option", tapi saya sadar diri, sepertinya tidak mungkin menyelesaikan workout dengan kondisi seperti ini. Sempat saya memaksakan mencoba workout Artemis, tapi baru 50 kali burpee , badan langsung loyo, kepala pening, perut mual. Sementara itu, ingus menggantung, meminta kepastian : disedot atau diseka.

Langsung saya sudahi sebelum pingsan.

Jadi, selama 7 hari ini, praktis saya sama sekali tidak mencatatkan waktu apa-apa.Padahal saya sudah masuk ke Woche 6 latihan ke 3 dari total 5 latihan. Kalau woche 6 ini kelar, saya masuk ke woche 7, alias Hell Week. Saya sedang memikirkan untuk mengulang lagi workout woche 6 dari pertama. Takutnya sih, tubuh saya kembali ke fase malas. Fase dimana keinginan untuk mencetak waktu yang terbaik berbanding terbalik dengan niat.

Eh, gimana sih, padahal quote freeletics "Success never accepts excuses". Oh, iya ya? Ya, lihat ntar lah *uhuk-uhuk

Atau Fase Mulas. Fase dimana kita sudah menyelesaikan 3 dari 5 set Aphrodite, lalu perut kalian mulas ingin BAB. Percayalah, kalian pasti akan mengalaminya (pengalaman pribadi).

Di Freeletics, kita mengenal empat peraturan sederhana :

sanggup?

Aturan pertama,terpaksa saya langgar karena pilek sungguh sangat mengganggu performa. Nafas jadi pendek, ingus kadang nyangkut di tenggorokan, kadang melayang bebas dari lubang hidung. Belum kalau disertai pusing atau batuk.

Tapi, kalau penyakit kalian cuma ketombe, sepertinya tidak ada masalah. Paling juga, kalau lagi jumping jack, ketombenya yang terbang-terbang.

Sebenarnya, memastikan freeletics dilakukan rutin cukup penting. Kalau misalnya jeda terlalu lama, biasanya nyeri otot bakal kembali ketika kita latihan lagi. Atau, kalau jeda terlalu lama, biasanya niat untuk kembali melakukan freeletics jadi lenyap.

Aturan kedua, saya selalu  bisa melakukannya. Karena jadwal freeletics saya tiap minggu terdiri dari 4-5 latihan. Bahkan saya sempat mengulang woche 4 freeletics, karena entah kenapa, saya kurang puas dengan woche 4 yang sudah saya jalani sebelumnya (emang kurang kerjaan sebenarnya). .

Aturan ketiga, saya 2 kali tidak latihan di hari Senin, tapi itu saya lakukan jika di hari Minggu saya juga melakukan freeletics. Dari 7 hari dalam seminggu, saya bebas mengatur waktu istirahat dan latihan sesuai jadwal saya. Biasanya yang saya lakukan adalah 2 hari latihan, 1 hari rest. Tergantung kalian, mau menjadwalkan latihan seperti apa. Intinya sih, ketat pada jadwal saja. Jangan sampai melewatkan jatah latihan. Tapi penting diingat, jangan lupa berikan jatah waktu bagi otot dan tubuh kita untuk beristirahat setelah latihan yang begitu keras.

Aturan keempat. Niat. Sejujurnya, kalau niatan menyerah selalu datang setiap kali latihan. Kadang ngomong sama diri sendiri "Ngapain susah-susah kayak gini sih?". Butuh motivasi lebih untuk menyelesaikan tiap workout dalam freeletics. Lagipula freeletics ini sebenarnya bukan sekedar olahraga. Para penciptanya menginginkan freeletics menjadi  gaya hidup : olahraga dan makan sehat. Lalu bagaimana supaya saya bisa tetap termotivasi melakukan freeletics setiap minggu?

Ada beberapa hal yang saya lakukan supaya tetap punya keinginan untuk mencetak Personal Best disetiap workout:

(SATU) Setiap pagi, buka youtube, cari testimoni transformasi freeletics.

Video-video mereka sering bikin 'panas'. Masa mereka dari gendut bisa sixpack, saya enggak? Hati-hati jika kalian melihatnya di tempat umum, misalnya kantor atau ketika pengajian (ya ngapain pas pengajian?). Ketika kalian, cowok misalnya, membuka testimoni freeletics dari free-athlete cewek, kemungkinan  dari belakang ada yang bakal teriak "ASTAGHFIRULLAH!! ITU ZINA MATA! DOSA!"

Waspadai kemungkinan smartphone atau laptop kalian dibakar.

dia sanggup, masa kamu enggak?


(DUA) Setiap pagi, melihat ke lemari, menatap baju-baju slim fit ukuran lebih kecil yang sengaja saya gantung.
Ini salah satu motivasi terbesar. "GUE PASTI BISA PAKE BAJU SLIM FIT!!". Baju slim fit membuat tubuh terasa lebih seksi dan menawan. Ini ibarat magnet bagi lawan jenis...........atau sesama jenis, tergantung kalian demen yang mana

(TIGA) Setiap hari, buka forum freeletics, lihat catatan waktu free-athlete yang lain

Ini salah satu kebiasaan saya. Membandingkan catatan waktu saya dengan free-athlete yang lain. Paling enak sih, dari instagram, search tag freeletics. Ada beberapa free-athlete yang levelnya udah puluhan yang cukup sering posting hasil workout-nya.

Percayalah, kalau masih sesama manusia, pasti waktunya bisa kita kejar!

Kalian juga bisa membandingkan waktu kalian melalui aplikasi freeletics dengan mem-follow free-athlete tertentu.

(EMPAT) Setiap hari, mencatat waktu workout dan membandingkan dengan workout sebelumnya

Ini yang paling asyik dari freeletics. Mencatatkan waktu terbaik (PB) setiap kali workout. Setiap kali sehabis workout, saya selalu membandingkan dengan workout sebelumnya, dan hasilnya sejauh ini, Alhamdulillah selalu bisa lebih cepat dari sebelumnya.

Cuma, ini jadi ketakutan saya, gimana kalau sehabis saya sembuh lalu ketika workout waktunya jadi lebih lambat ya?

Eh?

Entahlah, fokus saya sih, yang penting sembuh dulu.

Berhubung 7 hari tanpa freeletics, saya akhirnya hanya bisa mengontrol makan untuk menjaga berat badan saya. Meskipun sedang sakit, tetap makan jangan sampai kalap, sambil menjaga asupan vitamin dan istirahat yang cukup supaya cepat sembuh. Selain itu, saya juga masih rutin meminum teh hijau demi menjaga berat badan. Teh hijau cukup ampuh kok untuk menurunkan berat badan.
Sejujurnya, saya sudah gatal untuk segera bergumul dengan matras. Berpeluh setelah mengerjakan rangkaian set burpee, atau jengkelnya minta ampun kalau dapat menu latihan Artemis dan Zeus (dua latihan itu bikin saya super ngos-ngosan).

Ah, semoga cepat sembuh.

*) tulisan ini dapat dibaca juga di https://adapapadisini.wordpress.com/

Sabtu, Desember 17, 2016

(Memilih) Dijajah Medsos



"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."



Indonesia, tidak bisa lepas dari sejarah panjang kolonialisme. Dijajah, diperbudak, bersatu, berjuang, kemudian merdeka. 
gambar diambil dari sini

Era kolonialisasi Eropa atas Nusantara dimulai pertama kali pada Tahun 1511 ketika pelaut kenamaan Portugis, Afonso de Albuquerque, berhasil menaklukkan Malaka. Penaklukan Malaka ini, menjadi awal Portugis merajai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa melalui monopoli perdangangan cengkeh di Ternate (1512). Pada rentang waktu yang tidak terlalu jauh (1521), Spanyol datang ke Tidore. Kedatangan Spanyol ini, membuat Portugis meradang, karena dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas (1494). Kemudian timbulah perselisihan diantara keduanya. Untuk mengatasi perselisihan tersebut, maka ditandatanganilah Perjanjian Saragosa (1529) dengan isi perjanjian adalah Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatan di Filipina dan Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku.

Tahun 1596, Cornelis De Houtman, pelaut Belanda, menginjakkan kaki di Banten. Kemudian, 2 tahun setelahnya, Jacob Van Neck, pelaut Belanda lain, kembali datang ke Banten. Kedatangan bangsa Belanda ini, menjadi cikal bakal berdirinya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), sekaligus menjadi awal sejarah panjang penjajahan Belanda di Indonesia.
gambar diambil dari sini

Masa panjang penjajahan Belanda, kemudian berganti dengan penjajahan oleh bangsa Jepang (1942-1945) seiring dengan berlangsungnya Perang Dunia II. Masa penjajahan Jepang, dapat dikatakan, masa paling terburuk dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Rakyat Indonesia saat itu mengalami siksaan, hukuman mati, atau terlibat dalam perbudakan seks.

Dan kemudian, penjajahan yang sedemikian panjangnya itu berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamirkan kemerdekaannya.



Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya....



Tujuh dasawarsa kemudian.

Kebutuhan pokok manusia Indonesia mulai bergeser : sandang, pangan, papan, smartphone dan akun media sosial.

Media sosial, adalah segala jenis media komunikasi  yang terhubung dengan internet yang memungkinkan setiap orang untuk berbagi informasi. Ya, berbagi informasi. Semua informasi. Tapi, seperti kata ilmuwan komputer terkenal, Newton Lee,  



“Information is power. Disinformation is abuse of power.”


Wikipedia mengartikan, Disinformation  is intentionally false or misleading information that is spread in a calculated way to deceive target audiences. Intentionally ini kalau kita artikan dalam bahasa Indonesia, adalah "dengan sengaja".


Jadi, ketika seseorang dengan sengaja menyebarkan informasi yang tidak benar atau salah, menurut Newton Lee, maka ini termasuk penyalahgunaan kekuasaan.

Sekarang, coba kita lihat fakta yang ada di lapangan:

Facebook, perlahan mulai menjadi sarana bagi pihak, yang menurut saya -brengseknya luar biasa jahat-, untuk menyebarkan informasi yang bahkan kebenarannya nihil. Mereka melihat, keragaman Indonesia, selain menjadi kekuatan, bisa menjadi kelemahan yang vital. Isu SARA disebarkan, dimulai dari menyudutkan ras-ras tertentu, agama tertentu. Entah mau menguasai Indonesia lah, mau menghancurkan tempat ibadah lah, pokoknya, yang penting sebar saja kebencian.

Lalu, seperti api yang disulut pada tumpukan jerami, dengan cepat segera membesar. Saling hina, saling sikut, merasa semuanya benar, padahal berawal dari hal yang salah. Media sosial menjadi sarana yang sangat efektif. Bikin saja judul yang provokatif, lalu segera saja tersebar di feed Facebook. Judul saja, tidak perlu isi. Karena memang tren sekarang adalah share, baca nanti saja. Meskipun, kalian bikin judul "Nenek Diperkosa Minta Lagi" padahal isinya jualan pulsa, orang-orang lebih tertarik buat share. 

Atau ketik "Amin". 

Bhinneka Tunggal Ika, terancam menjadi dongeng.

Sadarkah, taktik ini pernah digunakan penjajah untuk meruntuhkan Nusantara.


Merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.
adu domba woi! bukan domba kawin! gambar dipinjam dari sini

Rupanya bangsa Indonesia sekarang, masih belum belajar dari sejarah.

 
Kemarin dijajah negara ini, sekarang lebih memilih dijajah media sosial.

Ampas!

*) tulisan ini dapat dibaca juga di https://adapapadisini.wordpress.com/