Rss Feed

Berburu Candi

Ada yang aneh ketika lihat blog ini?

Iya, gue barusan hganti themes. Perasaan, selama 3 tahun punya blog, baru sekali ini gue ganti themes-nya. Yah, sekalian refresh lah.
Cuma, berhubung gue asal ganti themes, akhirnya link temen-temen blogger ilang semua.
Haduh! Minta maap sekali. Silakan kirim via email atau via shoutbox, biar gue tulis lagi.

Dan, maap sekali lagi, gue ga bisa nulis banyak untuk posting kali ini. Gue sedang masa cuti setelah setahun penuh bekerja keras banting tulang. Nah, mumpung masih cuti gue pengen puasin jalan-jalan. Walaupun gue tetep merasa stress ga ilang walaupun udah jalan-jalan puter2 ketempat yang pengen banged gue datengin.
Huff...ternyata bekerja memang berat, bahkan ketika liburan, sedetikpun gue selalu ingat tugas kantor yang -anjir..pengen gue bejek-bejek-...

Liburan kali ini, gue memutuskan untuk touring berburu candi di Jogja dan Magelang. Yap touring dengan naik sepeda motor leih tepatnya. Lebih tepatnya lagi touring naik sepeda motor berburu candi SENDIRIAN!
Dasyat!
Total gue butuh waktu 4 hari 3 malam. Dimulai dari Kota Salatiga (rumah orang tua dan sekaligus kampung halaman) dan diakhiri di kota Salatiga, dengan total kilometer motor mencapai 500-an km lebih, menginap di losmen murah (Rp 70ribu/hari), nyasar sampai pantai (tak terduga) sampai ketemu bule Jerman yang ngomong bahasa inggrisnya seperti keluar dari hidung, kehujanan, kepanasan. Dan pada akhirnya ketika sampai ke rumah, gue mendapatkan kesimpulan "Muka gue lebih item 3 kali lipat dari sebelumnya"

Gue bagi foto aja de yah. Sebagian aja, fotonya terlalu banyak soalnya...
Besok gue tulis panjang de.Hehehe
Have a nice day guys!





Mencintai Lahir dan Batin (dan ini bukan konsultasi asmara)

Seberapa seringkah harusnya orang update blog??
Seminggu sekali? Dua minggu sekali??..Ato malah tiap hari??
Kalo dulu, guw lebih milih nulis seminggu sekali di blog plus hampir tiap hari di diary, plus 2 kali sehari nulis catatan barang belanjaan dan 1 kali nulis surat tilang (wait! gw bukan polisi)..
Alasannya?
Ga ada.
Gue cuman butuh nulis. itu ajah
Sekarang?
Man, masih sama seperti alasan dulu. Gue sibuk. Luar biasa. Dan gue masih berusaha untuk menimati kerjaan baru ini.
Dan, gue berusaha untuk tetap update
Seandainya, blogger.com bisa lebih canggih.
Bisa menulis semua yang pengen gue utarakan hanya dengan kekuatan pikiran.
Dan dalam 3 minggu, dahi gue bakal penuh kerutan karena kebanyakan mikir posting blog..


Eh, cuy, ngomong2 soal update blog, sepertinya makin banyak juga temen-temen blogger gw yang tiba2 juga jarang update. Apakah ini pertanda bahwa blog mulai dijauhi? Oh, semoga tidak. Yah, memang, gue akui, lebih simple menulis beberapa hal lewat status Facebook atau Twitter. Tapi, buat gue sendiri, ga pernah ada yang mengalahkan kenikmatan menulis berbaris-baris. Lebih puas. Lebih plong. Dan, gue bisa lebih ngaco..hehe



Cuy, baru-baru ini kita memperingati Hari Sumpah Pemuda
Hari dimana semua pemuda mengikrarkan diri, berjanji untuk tetap setia membela Indonesia dan tidak melakukan hubungan sesama jenis.
Oke, lupakan kalimat terakhir. Itu emang tidak pernah terekam dalam sejarah. Tapi serius, Mpok Nori bersaksi bahwa dia mendengarnya.
Wait! bukan itu juga intinya.

Selama ini, apakah gw sudah benar2 mencintai Indonesia yah?
Serius.
Mungkin kalian ingat, ketika beberapa kali negara sebelah hutan Kalimantan secara kurang ajar mengakui budaya Indonesia. Yap. Dan gue adalah salah seorang yang marah luar biasa. Mengecam. Mengutuk. Seandainya ketika itu Indonesia membuat pasukan berani mati untuk kirim sukarelawan kesana, gue adalah orang pertama yang dengan senang hati dan bersukarela untuk bergabung mendapat tanda tangan Siti Nurhaliza.
Halah.
Maksudnya...secara suakrela mengambil kembali hak bangsa Indonesia.
Masalahnya adalah...
Apakah gue benar-benar "memiliki hak" atas budaya itu?

Lagu Rasa Sayange?
Gue yakin dengan sluruh jiwa raga bahwa itu adalah warisan budaya Indonesia. Dan gue bahkan hanya tau satu lirik lagunya
"rasa sayange...rasa sayang-sayange....*habsi itu blank*..."
Ironis.

Kesenian Reog
Ini gue juga yakin. Alasannya? Uhmmm....uhmmmm...uhmmmm, yah, hanya orang Indonesia yang sanggup makan beling. Logis. Dan itu, udah ada sejak ratusan tahun lalu.
Dan gue, hanya prnah sekali-dua kali nonton Reog.
Ironis pangkat dua

Batik
Ini lebih yakin lagi. Secara ya, film2 silat bersetting jaman dulu selalu menggambarkan prajurit dan raja menggunakan sarung dengan motif batik. Ini bikin gue yakin bahwa sejak dulu batik memang sudah ada di negara kita, dan jeans tidak populer di kerajaan Majapahit.
Dan gue, hanya punya satu stel kemeja batik.
Ironis pangkat tiga.

Gue mencintai negara ini. Sungguh. Ketika upacara bendera jaman SMA, gue masuk sebagai anggota Paskibra, dan gue menitikkan air mata ketika bendera Merah Putih berkibar. Gue menghargai benar jasa pahlawan bangsa ini merebut kemerdekaan. Gue tahu, bahwa banyak nyawa dikorbankan, bahwa tidak cukup dengan waktu sebentar.

Naifnya gue adalah, dengan lantangnya berteriak "Merdeka", padahal gue ga ngelakuin apa-apa untuk Indonesia.
Apa yang telah gue lakukan untuk Indonesia?

Seperti jawaban pilihan ganda PPKN jaman SD.
Apakah yang harus kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan sebagai seorang pelajar?
Dan gue jawab "Belajar dengan rajin"

Dan sekarang, pertanyaan yang sama diluncurkan ke gue
Apakah yang harus kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan sebagai seorang pekerja?
Dan gue jawab, "Bekerja dengan rajin"

Dan inilah jawaban yang tepat kenapa selama ini gue ga ngeblog
"Gue rajin bekerja untuk mengisi kemerdekaan"
Dan, pertanyaan ini telah gue jawab dengan alis mata kiri lebih naik 10 derajat dibanding alis mata kanan. Pertanda bahwa gue sangat serius dalam menjawab pertanyaan ini, dan bahwa gue tetap berusaha tampil keren mesti sedang berpikir.

Ngaco mode on..hehehe

Ketika kita mencintai seseorang, kita akan mencoba mengetahui lebih dalam tentang dia. Nama bapaknya, nama ibunya, adiknya, neneknya kalo perlu, berkorban, material, batin dan fisik. Menyayangi, dan berjanji akan saling mengasihi dan berbagi.
Sama.
Mencintai Indonesia.
Lakukan sama seperti kalian mencintai orang yang kalian sayang.

Okey cuy!

Next destination untuk hari ini : Toko Batik
Mau cari batik lagi buat ngantor.
Hohohoho...mencintai Indonesia lahir dan batin
Yuk!

Goresan...

Satu goresan untuk hari ini...

Ratusan goresan untuk esok hari dan seterusnya...

Yap...

Gue kembali...

...
...

Cukup untuk hari ini, besok gue sambung

Hehe


-Aca-

Elite Bener Penyakit Gue

Kondisi badan gue drop lagi.

Ga karuan rasanya. Udah 5 hari gue terkapar menderita dengan segala erangan penuh kesakitan. Gue kena penyakit paraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah banget. Jerawat.

Ngaco!!

Serius, selama 5 hari terakhir gue merasa dalam kondisi yang tidak bisa bekerja secara baik dan benar. Perut gue, tepatnya dibagian bawah ulu hati terasa nyeri sangat. Ditambah komplikasi mencret dan badan lemas. Sampai akhirnya, kemaren gue terpaksa mengunjungi Rumah Sakit.

Yah, kemaren, setelah jam kantor, gue periksa. Ditemeni Suryadi, temen kerja sekaligus temen kos yang begitu setia menemani kemanapun gue pergi dengan motor BMW (Bebek Merah Warnanya), motor keramat. Yah, dia sangat setia kawan. Apalagi mengingat dia adalah pemuda perjaka asal Banyuwangi yang baru sekali menginjak kota Bandung, dan ga punya kendaraan, jadilah dia, bagai ikan dan kotoran, selalu mengikuti kemana gue pergi.

Diatas motor, kita berpelukan. Erat. Menggigil kedinginan. Gue yang sering berada dalam posisi mengendarai, sering sekali merasakan ‘ada sesuatu menyodok bagian belakang tubuh gue’.

Romansa penuh kehomoan ternyata ga pernah lepas dari gue. Hueeeh…

Eh, back to topic guys.

Sebagai seorang pegawai bank besar, gue dapat keuntungan asuransi kesehatan. So, gue dapat keringanan (bahkan gratis) buat periksa di Rumah Sakit rujukan yang ditunjuk oleh perusahaan. Wew, yah lumayan buat ngirit gaji toh. Yang perlu dicatat, kami berdua adalah orang yang sangat awam dengan kota Bandung. Kemanapun kami pergi, selalu ditemani peta. Bayangkan, disetiap lampu merah, kita selalu buka peta lebar-lebar. Kemudian dengan penuh keluguan, Suryadi berteriak dengan logat Jawa Timurnya “Waduh rek!! Kita kesasar lagiiiii!! Ini dimana!??”

Dan gue dengan penuh amarah, hanya bisa merintih kesakitan “…Mati gue.Bakal mencret dicelana…”

Ini sempat membuat para pengguna jalan terlena. Mungkin mereka berpikir “Kenapa ada tukang sate teriak-teriak di jalan?”

Yah, sempet beberapa kali nyasar, akhirnya gue sampai di sebuah Rumah Sakit. Well, hati gue terasa lega. Akhirnya gue bakal nemuin dokter yang tepat untuk menyembuhkan penyakit gue. Namun, pikiran itu terlintas hanya sesaat. Detik selanjutnya gue mengumpat ketika membaca papan Rumah Sakit. Tertulis gede-gede “RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK HERMINA : MELAYANI PERSALINAN”

“Anjrit!! Persalinan!? Sur, gue mah mencret doang, bukan mau ngelahirin!!”

“Oh, yah…kayaknya si ada dokter umumnya Ca, kalo ndak ada yo wis, cari RS lain lah…”

“………….Masa gue bakal di USG gara-gara mencret??”

Meskipun, pada akhirnya, semua kekhawatiran gue sirna. Ternyata, ada juga dokter umumnya.

Gue dicek tensi. Normal. Terus pake stetoskop. Ditenmpelin di perut. Perut gue ditekan-tekan. Dipukul-pukul dikit. Dokternya bingung. Dia bilang “Rambut di perutmu seperti hutan…”

Bukan!!

Dia bilang “Hmmm, kayaknya perlu tes lab”

Gue dibawa ke lab. Ternyata cuma diambil sampel darah doang.

Nunggu bentar, sampai hasilnya keluar. Kata dokternya sih, hasil cek darah gue semuanya bagus. So, diagnosa DB atau tipus yang pernah dikeluarkan Suryadi sirna. Gue lega.

Gue tanya ke dokter “Terus, saya sakit apa ya dok?”

“Hmmm, yah, lambung anda banyak terisi oleh enzim. Gampangnya, kelebihan enzim. Jadi kadang ada suara grucuk-grucuk di lambung kan?”

“Ha?” gue ga mudeng

“Yah, secara lebih gampangnya, ini yang dinamakan KEMBUNG. Dan anda juga menderita MENCRET.”

“Oh! KEMBUNG?....dan MENCRET?”

Man, gue jauh-jauh ke Rumah Sakit dengan kekahwatiran penuh. Was-was kalo kena DB atau Tipus. Lha ternyata malah kena KEMBUNG…dan MENCRET.

Sekalian gue tanya aja "Dok, bisakah KEMBUNG membuat saya terbunuh!??" Umur saya tinggal berapa windu lagi neeeeh???"

Kenapa harus KEMBUNG dan MENCRET si!??

Iyah, elite bener penyakit gue!!

Gue beranjak menuju tempat pengambilan obat. Mbak yang melayani gue ramah. Dia bicara dengan lemah lembut. Penuh senyum. Berbicara layaknya gue adalah orang yang memang harus dihormati meskipun gue sedang menderita mencret. Dia bilang dengan pelan ditengah antrian para pencari obat, “Mas, ini obat untuk lambungnya, diminum 2 kali sehari yah.”

Gue jawab pelan “Iyah…”

Kemudian dia bilang lagi, “Nah, untuk mencretnya, 3 kali sehari 2 tablet yah..”

“Iya”, kata gue

Eh, dia bilang lagi dengan nada aga keras “Inget lho Mas, OBAT MENCRETNYA 3 KALI SEHARI.YAH?”

Pengantre disebelah gue ketawa…

Anjrit…

Kali ini dengan nada pasrah, gue bilang “Iya…”

Heh, untung de, berkat obat yang diberikan sama dokter, sekarang gue udah lebih baikan. Gue mulai pulih dari diare.

Heh, syukurlah! On fire ni buat kerja lagi.

Huooooooh!!!