Senin, Desember 29, 2008

ATM...oh....ATM

Untuk kedua kalinya dalam sebulan ini, gue dikalahkan penyakit. Terpaksa bedrest lagi. Kali ini butuh waktu yang lumayan lama untuk pulih. Sampe saat post ini gue ketik, kondisi gue masih dinyatakan belum sembuh. So, ga ada yang bisa gue lakuin selain menjalani masa liburan dengan terus2an menelan 3 pil obat setiap habis makan. Nestapa tiada tara. Badan gue sempet demam tinggi. Setiap menutup mata, rasanya mata ini mendidih. Panas luar biasa. Gue sempet ngigau ga jelas ketika tidur, mimpi buruk, dan terbangun dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Dingin. Pusing. Mual.

Kemudian terjaga sampai pagi.

Hingga di pagi hari, gue mendapati penyakit gue semakin menjadi-jadi.

Neraka tanpa api!!

Mengkambing hitamkan cuaca yang sangat tidak stabil rasanya percuma. Toh, memang kondisi kesehatan gue sedang buruk2nya. Baru aja sembuh dari sakit, tentu bukanlah kondisi yang bagus untuk tubuh. Ditambah kesibukan kerjaan yang ‘’edan-sibuk-mampus’’ itu, gue merasa tubuh ini diperas luar biasa. Kelelahan fisik, plus ditambah tekanan mental, dan ditambah belum ke salon selama 4 minggu terakhir jelas menimbulkan stress.

Oke, singkirkan alasa ketiga.

Belum lagi, gue stress mikir gaji...

Seperti yang udah gue ceritain di post sebelumnya, gue baru aja keterima kerja di salah satu bank swasta terkemuka (penekanan bahwa gue mau pamer kalo bank gue tenar...cailah!). Semenjak awal training, gue dijejali oleh pernyataan2 dari para trainer “Bank adalah lembaga kepercayaan, maka jadilah banker yang jujur dan dipercaya oleh konsumen”.

Ini menjadi satu dorongan yang positif pada sisi dari diri gue yang negatif. Sayangnya, seperti rumus matematika dasar, dimana perkalian antara ‘nilai positif’dengan ‘nilai negatif’selalu akan menjadi ‘nilai negatif’, sepertinya terbukti benar untuk diri gue. Huehehehehe. Ga lah!!

Banker selalu jadi profesi utama.

Maling ayam, profesi sampingan.

Ini yang namanya Yin dan Yang. Selalu ada keseimbangan disemua kehidupan.

Kembali ke masalah gaji....

Selalu ada yang dinanti oleh karyawan bank ketika tanggal 28 tiba. Sebuah pemberitahuan, rekening telah ditambah oleh sebuah fonem yang terucap “gaji”. Sesuatu yang jelas dinanti, terutama oleh karyawan baru –seperti gue- menerima gaji pertama, rasanya seperti apa ya??

Sebagai seorang karyawan bank, adalah suatu kewajiban untuk membuka rekening gaji di bank tempat ia bekerja. Tentu saja dengan berbagai macam keringanan serta potongan yang minimal. Yah, sama sekali tidak merugikan ketimbang rekening gue di bank terdahulu.

Ketika hari penerimaan gaji tiba, ruangan kerja yang dipenuhi oleh karyawan baru menjadi hingar. Pembicaraan pasca penerimaan gaji terdengar di setiap sudut ruangan. Belanja ini-belanja itu, ganti behel, perawatan kecantikan. Sementara gue,.....di sudut ruangan yang lain, memilih menyendiri.

Berpikir keras...."Anjrit! Berapa nomor pin ATM gue!?"

Ketika tiba saatnya jam kantor selesai, kita berbondong menuju mesin ATM di depan kantor. Antrian panjang mengular. Gue dapet urutan nomor 3.

Temen kerja gue masuk....Lama...Kemudian dia keluar, merapikan isi dompetnya. Beberapa lembar uang 100ribuan tersembul keluar. Dia bilang, "Rekeningku jadi gemuk nih. Cobain aja liat sendiri rekening kamu..."

Gue giliran selanjutnya. Dengan dada berdebar, mata hijau, gue masuk....Lama...Kemudian keluar, merapikan isi dompet...

Temen gue yang lain tanya, "Gimana Ca? Berapa duit yang ada di rekening kamu?"

"Nol. Gue masih lupa pin ATM gue!", menangis lah gue dalam penderitaan...

"Cailah!!! Dasar pikun!"

Besoknya, gue ngurus ke kantor perihal lupanya pin ATM. Gue ambil nomor antrean customer service. Ga berapa lama, nomor gue disebut. Dihadapan gue, mbak2 CS ayu, dada gue berdebar, kemudian hati gue mencelos ketika melihat tompel kecil di pipi kirinya. Tersamarkan bedak. Tapi jelas terlihat. Ayu....bertompel...

"Ada yang bisa dibantu?"

"Iya, saya kelupaan nomor pin ATM saya?"

"Lupa sama sekali?"

"Uh...yah..."

"Prosedurnya harus ganti ATM, tapi bsia jadi sekarang juga. Bisa lihat kartu identitas dan buku tabungan"

Gue berikan semua yang dia minta. Ketika membuka buku tabungan gue, dia terkejut. Sambil tertawa kecil, dia bilang ke gue.

"Rekening gaji ya mas? Baru 2 minggu buka rekening yah?"

"Uh...iyah"

"Hahahahaha. Ini rekor konsumen. Baru 2 minggu buka rekening, udah lupa nomor pin sendiri.."

"Hahahahahaha...." gue ikutan tertawa. Menertawakan kepecundangan gue. Rekor konsumen. Dua minggu buka rekening, udah lupa pin sendiri. Goblok!

8 komentar:

ayyiaa mengatakan...

hha sumpa penyakit pikun trnyata uda dmulai dari usia dini.
bersiapsiaplah anda akan terkena alzeimer.muahahaha(ketawa setan)

ajenkajenk mengatakan...

wakakakakakakakakak...

dasar aca bodoh...!!

wakakakakakakak...gw msh ketawa nih ngebayangin lo keki didepan mbak2 bertompel ituh..

asal jangan lupa aja alamat bank t4 lo kerja..biar gk nyasar huehehehe...

mahasisWi dEpResi mengatakan...

hahaha
kren t0oh mas aCha. .
minTA award ja ma bAnk swasta terkemuka itU. .
Kateg0rinya 'nasaBah terpikun'. .
haha
tp q jg prnh ky maS aCha. .
LUPA piN kTM. .
tp qU gk Lgsg ngELap0r ke cust0mer sERvice, aLNa t0h brU sming9u dr KTM dbgiin..
maLu,mas!

jdna. .udh 6buLAnan stLAh kJadian LupA na n0mer pin, BRu qu ngELap0r. .

dzury sang idiot beraksi mengatakan...

ckckck. . .

sino mengatakan...

wah mending maling ayam aja dech,gak ribet,dapet langsung jual

Rossa mengatakan...

jiah..
gue fikir, lu musti tempel GEDE-GEDE nomor ATM lo di kolor lo deh ca!
bisa gawat tuh kalo no.Atm sendiri aja bisa lupa.
apalagi baru 2 minggu.
hadoh.
1x24 jam, lo musti lapor ke mantri terdekat.
gue rasa lo di dera penyakit epilepsi yang maha dahsyat..
kalah deh krisdayanti yang "MAHADAYA cinta"
(gue tau, kata2 gue ini ga nyambung)
hho*

fiqel mengatakan...

makanya otak jangan ditaro di dengkul, ca.
hehehe

koko mengatakan...

GINI AJA DEH CA KAMU TARUNG NO PIN DI KAMAR MANDI DECH NAH PAS KAMU MERENUNG TIAP PAGI PASI LIHAT N NGAPALIN PIN TU. BELUM LAGI PAS YOGA DI SORE HARI TAMBAH APAL DECH