Welcome

sebuah catatan tentang perjuangan seorang asisten tukang cukur

Tukang Cukur

Kamis, Januari 31, 2013

Kalau dihitung sampai bulan Februari, berarti saya sudah 8 bulan ga ke salon. Kunjungan terakhir saya ke salon kira-kira 2 minggu sebelum saya menikah. Berati awal Juni 2012. Yang paling saya ingat dari kunjungan terakhir tersebut, mas-mas salon yang keramasin rambut saya menggunakan shampoo aneh. Ya, aneh. Sebab rambut saya beraroma pisang setelah keramas. Aroma yang tidak wajar.
Selama 8 bulan berikutnya saya potong rambut di tukang cukur Madura dekat rumah karena salon langganan saya selalu penuh tiap kali saya kesana. Potong rambut di tukang cukur Madura jauh lebih murah dibanding salon langganan saya.  Pada saat awal kunjungan ke sana potongan rambut saya  berubah jadi mirip Tukul. Potong rambut berikutnya, saya kemudian meminta supaya dipotong model cepak. 
 gambar diambil dari sini
Ngomong-ngomong soal salon langganan. Teman penulis saya di Jakarta dulu punya salon langganan di daerah Jakarta Selatan. Pokoknya tiap kali potong dia pasti selalu kesana. Katanya, kapster salonnya ramah dan kasir yang jaga cantiknya mirip Asmirandah KW Super. Tempatnya adem, majalahnya banyak. Sampai suatu hari, dia datang bebarengan dengan Ian Kasela, vokalis Radja. Dia bahkan masuk salon pakai kacamata hitam. Waktu itu, Ian Kasela minta dipotong rambut hampir model gini :
 Lihat jari kelingkingku. Lentik kan?
gambar diambil dari sini

Model rambut ini dinamakan model rambut Gula Kapas Pink. 

BTW, fotonya kayaknya kegedean ya?...

Setelah lihat hasil potongan sang vokalis Radja itu, teman saya kemudian tidak pernah lagi datang ke salon tersebut.

"Ntar kalo gue minta model rambut yang lagi tren, jangan-jangan rambut gue digituin, Ca.", begitu katanya

Okey, serem juga.

Lain lagi dengan teman kuliah saya di Semarang. Kira-kira 5-6 orang cowok kampus saya punya salon langganan di daerah Tembalang. Kata mereka kalau mau style rambut paling keren harus potong disana. Yang motong jago banget katanya. Guntingnya kayak melayang-layang diudara sendiri. Trus kecepatannya dalam memotong luar biasa. 
Disini saya mulai ragu, jangan-jangan mereka potong rambut di sirkus keliling.

Tapi, kata mereka ada satu hal yang bikin mereka betah kesana. Ternyata salon tersebut punya koleksi majalah-majalah dewasa terbaru di ruang tunggunya. 

Bah! Jelas kali teman-teman saya betah. 

Besoknya saya mulai langganan potong disana. Hehe. 

Sampai akhirnya saya meninggalkan Semarang, saya mulai kehilangan majalah-majalah dewasa tersebut...anu...maksud saya kehilangan salon tersebut.

 Teman kerja saya ada yang paranoid sama tukang cukur. Apalagi saat finishing (cailah, finishing) dimana si tukang cukur ngerapin rambut-rambut tipis di belakang kepala dan godek( tau godek ga? rambut di pinggiran pipi). Nah, kalau mau ngerapiin kan harus pakai pisau cukur. Sedangkan pisau tukang cukur Madura lebih mirip golok lipat mini ketimbang pisau cukur

gambar diambil dari sini

Teman saya itu bahkan sampai bela-belain bawa pisau cukur sendiri merek Gillete.

Saya sendiri sampai saat ini sepertinya masih akan terus potong di tukang cukur Madura deket rumah. Meskipun di salon langganan ada mbak-mbak salonnya cantik-cantik, ruangan ber-AC, dan keramas aroma pisang, tapi di tukang cukur Madura bayar cuma Rp 10.000, dipijitin pula. Plus kalo lagi nunggu, tersedia tabloid olahraga terbaru.

Itu saja cukup nyaman kok.