Selasa, Desember 20, 2016

Aturan Sederhana Freeletics

Terhitung sejak hari ini, berarti saya sudah 7 hari berhenti melakukan freeletics karena terpaksa. Tiga hari karena bahu saya sedikit cedera setelah workout terakhir, dan begitu cedera mendingan, 4 hari sisanya, termasuk hari ini, terpaksa absen karena flu. Meskipun jargon freeletics "quit is not an option", tapi saya sadar diri, sepertinya tidak mungkin menyelesaikan workout dengan kondisi seperti ini. Sempat saya memaksakan mencoba workout Artemis, tapi baru 50 kali burpee , badan langsung loyo, kepala pening, perut mual. Sementara itu, ingus menggantung, meminta kepastian : disedot atau diseka.

Langsung saya sudahi sebelum pingsan.

Jadi, selama 7 hari ini, praktis saya sama sekali tidak mencatatkan waktu apa-apa.Padahal saya sudah masuk ke Woche 6 latihan ke 3 dari total 5 latihan. Kalau woche 6 ini kelar, saya masuk ke woche 7, alias Hell Week. Saya sedang memikirkan untuk mengulang lagi workout woche 6 dari pertama. Takutnya sih, tubuh saya kembali ke fase malas. Fase dimana keinginan untuk mencetak waktu yang terbaik berbanding terbalik dengan niat.

Eh, gimana sih, padahal quote freeletics "Success never accepts excuses". Oh, iya ya? Ya, lihat ntar lah *uhuk-uhuk

Atau Fase Mulas. Fase dimana kita sudah menyelesaikan 3 dari 5 set Aphrodite, lalu perut kalian mulas ingin BAB. Percayalah, kalian pasti akan mengalaminya (pengalaman pribadi).

Di Freeletics, kita mengenal empat peraturan sederhana :

sanggup?

Aturan pertama,terpaksa saya langgar karena pilek sungguh sangat mengganggu performa. Nafas jadi pendek, ingus kadang nyangkut di tenggorokan, kadang melayang bebas dari lubang hidung. Belum kalau disertai pusing atau batuk.

Tapi, kalau penyakit kalian cuma ketombe, sepertinya tidak ada masalah. Paling juga, kalau lagi jumping jack, ketombenya yang terbang-terbang.

Sebenarnya, memastikan freeletics dilakukan rutin cukup penting. Kalau misalnya jeda terlalu lama, biasanya nyeri otot bakal kembali ketika kita latihan lagi. Atau, kalau jeda terlalu lama, biasanya niat untuk kembali melakukan freeletics jadi lenyap.

Aturan kedua, saya selalu  bisa melakukannya. Karena jadwal freeletics saya tiap minggu terdiri dari 4-5 latihan. Bahkan saya sempat mengulang woche 4 freeletics, karena entah kenapa, saya kurang puas dengan woche 4 yang sudah saya jalani sebelumnya (emang kurang kerjaan sebenarnya). .

Aturan ketiga, saya 2 kali tidak latihan di hari Senin, tapi itu saya lakukan jika di hari Minggu saya juga melakukan freeletics. Dari 7 hari dalam seminggu, saya bebas mengatur waktu istirahat dan latihan sesuai jadwal saya. Biasanya yang saya lakukan adalah 2 hari latihan, 1 hari rest. Tergantung kalian, mau menjadwalkan latihan seperti apa. Intinya sih, ketat pada jadwal saja. Jangan sampai melewatkan jatah latihan. Tapi penting diingat, jangan lupa berikan jatah waktu bagi otot dan tubuh kita untuk beristirahat setelah latihan yang begitu keras.

Aturan keempat. Niat. Sejujurnya, kalau niatan menyerah selalu datang setiap kali latihan. Kadang ngomong sama diri sendiri "Ngapain susah-susah kayak gini sih?". Butuh motivasi lebih untuk menyelesaikan tiap workout dalam freeletics. Lagipula freeletics ini sebenarnya bukan sekedar olahraga. Para penciptanya menginginkan freeletics menjadi  gaya hidup : olahraga dan makan sehat. Lalu bagaimana supaya saya bisa tetap termotivasi melakukan freeletics setiap minggu?

Ada beberapa hal yang saya lakukan supaya tetap punya keinginan untuk mencetak Personal Best disetiap workout:

(SATU) Setiap pagi, buka youtube, cari testimoni transformasi freeletics.

Video-video mereka sering bikin 'panas'. Masa mereka dari gendut bisa sixpack, saya enggak? Hati-hati jika kalian melihatnya di tempat umum, misalnya kantor atau ketika pengajian (ya ngapain pas pengajian?). Ketika kalian, cowok misalnya, membuka testimoni freeletics dari free-athlete cewek, kemungkinan  dari belakang ada yang bakal teriak "ASTAGHFIRULLAH!! ITU ZINA MATA! DOSA!"

Waspadai kemungkinan smartphone atau laptop kalian dibakar.

dia sanggup, masa kamu enggak?


(DUA) Setiap pagi, melihat ke lemari, menatap baju-baju slim fit ukuran lebih kecil yang sengaja saya gantung.
Ini salah satu motivasi terbesar. "GUE PASTI BISA PAKE BAJU SLIM FIT!!". Baju slim fit membuat tubuh terasa lebih seksi dan menawan. Ini ibarat magnet bagi lawan jenis...........atau sesama jenis, tergantung kalian demen yang mana

(TIGA) Setiap hari, buka forum freeletics, lihat catatan waktu free-athlete yang lain

Ini salah satu kebiasaan saya. Membandingkan catatan waktu saya dengan free-athlete yang lain. Paling enak sih, dari instagram, search tag freeletics. Ada beberapa free-athlete yang levelnya udah puluhan yang cukup sering posting hasil workout-nya.

Percayalah, kalau masih sesama manusia, pasti waktunya bisa kita kejar!

Kalian juga bisa membandingkan waktu kalian melalui aplikasi freeletics dengan mem-follow free-athlete tertentu.

(EMPAT) Setiap hari, mencatat waktu workout dan membandingkan dengan workout sebelumnya

Ini yang paling asyik dari freeletics. Mencatatkan waktu terbaik (PB) setiap kali workout. Setiap kali sehabis workout, saya selalu membandingkan dengan workout sebelumnya, dan hasilnya sejauh ini, Alhamdulillah selalu bisa lebih cepat dari sebelumnya.

Cuma, ini jadi ketakutan saya, gimana kalau sehabis saya sembuh lalu ketika workout waktunya jadi lebih lambat ya?

Eh?

Entahlah, fokus saya sih, yang penting sembuh dulu.

Berhubung 7 hari tanpa freeletics, saya akhirnya hanya bisa mengontrol makan untuk menjaga berat badan saya. Meskipun sedang sakit, tetap makan jangan sampai kalap, sambil menjaga asupan vitamin dan istirahat yang cukup supaya cepat sembuh. Selain itu, saya juga masih rutin meminum teh hijau demi menjaga berat badan. Teh hijau cukup ampuh kok untuk menurunkan berat badan.
Sejujurnya, saya sudah gatal untuk segera bergumul dengan matras. Berpeluh setelah mengerjakan rangkaian set burpee, atau jengkelnya minta ampun kalau dapat menu latihan Artemis dan Zeus (dua latihan itu bikin saya super ngos-ngosan).

Ah, semoga cepat sembuh.

*) tulisan ini dapat dibaca juga di https://adapapadisini.wordpress.com/

Tidak ada komentar: