Senin, Juli 01, 2013

Ah, Pak....


Disebuah saung, dua orang petani, suami istri, bercakap sembari melepas lelah selepas mengolah sawah. Sawahnya hijau mulai menguning. Dua bulan lagi katanya bakal panen. Sekali panen satu koma tiga ton beras. Sawah yang bahkan bukan milik mereka. Sawah milik mereka, lima belas tahun lalu dijual. Untuk biaya anak semata wayang mereka masuk SMP. Biayanya mahal kata mereka. Tapi naas, belum dua bulan si Anak memakai seragam baru, remaja tujuhbelas tahunan mabuk kehilangan kendali, menghantam si Anak yang sedang jalan kaki sepulang sekolah.

"Bu, harga BBM akhirnya naik. Bagaimana nasib kita?"

"Ah, Pak. Motor saja kita tak punya. Apa urusan kita sama BBM?"

"Tapi kata juragan, kalau harga BBM naik, harga beras, ikan, cabe, dan semuanya juga naik."

"Ah, Pak. Ikan bisa dipancing. Daging sudah tentu kita dapat tiap lebaran haji. Daging ayam setahun bisa empat kali kita dapat kalau tetangga lagi kenduri. Sayuran kita ambil saya dari kebun. Kita ini di kampung, Pak. Sudahlah, apa urusan kita sama BBM?"

"Bu, kalau BBM naik, lebaran nanti Bapak tidak bisa belikan Ibu baju baru buat silaturahmi keliling desa."

"Ah, Pak. Sudah lima tahun kita tidak beli baju. Baju lebaran kemarin saja pemberian Bu RT. Masih bagus . Masih bisa dipakai buat lebaran nanti. Bapak juga masih punya sarung pemberian Juragan. Jangan ngomongin BBM, Pak. Gak ada urusannya sama kita."

"Iya Bu. Tapi kata Pak Carik, kalau BBM naik, warga miskin dapat duit dari Pemerintah. Seratus lima puluh ribu. Kita dapat gak ya Bu?"

"Ah, Pak. Bapak kok ngerasa kita miskin? Duit kita memang gak gede pak, gak kayak PNS-PNS itu. Rumah kita memang cuma gubuk, kena hujan bocor sana-sini. Kasur kita memang cuma papan, tapi Bapak juga masih bisa ngorok. Baju kita memang banyak tambalan & jahitan, Pak, tapi kita kan masih bisa kerja, masih bisa makan meski ga tiap hari ada lauk enak. Bapak tiap jumat masih bisa juga ngisi kotak amal."

"Iya Bu. Tapi seratus lima puluh ribu itu bisa beli hape. Ibu gak kepengen kayak Suwito, hapenya tang-ting-tang-ting. Bunyiiiii terus tiap hari. Telepon sana-sini."

"Ah, Pak. Kita ini mau telepon siapa. Anak sudah gak ada. Simbok sama Bapak juga udah meninggal. Telepon saudara di kampung juga gak pada punya hape. Punya hape juga ga bisa baca. Wong, kelas 1 SD aja gak lulus-lulus."

"Iya Bu. Tapi..."

"Pak. Udahlah. Biarin aja kalau BBM naik, kalau yang miskin dapat duit. Wong kita juga ga rugi apa-apa. Udah, Pak. Kerjain aja sawah juragan. Yang penting besok kita masih sehat, Bapak sehat, masih bisa nemenin Ibu, masih bisa kerja. Rumah biar jelek yang penting ada. Nggih Pak?"


4 komentar:

diana bochiel mengatakan...

Kereeeeeeeen. Gw berasa lagi diladang mbah gw bacanya.
Dana BLSM 150rb mau beli hp apa si bapak? Hahahaa.
Hp cross second kali ya.

Bbm naik emang ga ngaruh buat orang kayak mereka. Tapi buat gw dan warga kota kelas menengah kebawah gini berasa ca. Putih deh gw ga kemana mana ongkos mahal -_-

Brillie mengatakan...

Dampak kenaikan ВВМ™ ngaruh ke gaya hidup orang yang tinggal di perkotaan. Biar gak kena dampaknya dan masih bisa bertahan dengan pendapatan seiprit adalah bersikap prihatin, merubah gaya hidup yang terlanjur boros dan tetap menabung.

Bayu P Abuna mengatakan...

iya, ngapain mikirin BBM, BBM aja gak pernah mikirin kita. Hutf

Anonim mengatakan...

Bikin buku lagi dong. Pasti seru